Surabaya (beritajatim.com) – Di tengah meningkatnya tren gaya hidup sehat, kopi tanpa gula semakin diminati masyarakat.
Melihat kebutuhan tersebut, UMKM asal Surabaya, Koffiku, menghadirkan kopi premium tanpa gula dan tanpa ampas yang diklaim lebih ramah bagi penderita diabetes maupun masyarakat yang sedang menjalani pola hidup sehat.
Produk lokal ini turut meramaikan Java Coffee and Flavor Festival (JCFF) 2026, ajang yang digagas Bank Indonesia sejak 2021 untuk memperkuat ekosistem industri kopi nasional. Tahun ini menjadi momen spesial bagi Koffiku karena untuk pertama kalinya bergabung sebagai UMKM binaan Bank Indonesia.
Di balik berkembangnya Koffiku, tersimpan kisah inspiratif sang pendiri, Lidia Silvi, yang berhasil mengubah pengalaman pribadinya menghadapi diabetes menjadi sebuah peluang usaha bernilai ekonomi.
Lidia mengisahkan, sebelum membangun bisnis kopi, dirinya bekerja sebagai karyawan kantor sekaligus memimpin CV Freysea Indocitra di Surabaya. Kebiasaan mengonsumsi kopi saset yang mengandung gula tinggi akhirnya berdampak pada kesehatannya hingga didiagnosis mengidap diabetes.
Meski demikian, ia tidak ingin berhenti menikmati kopi. Dari situlah muncul ide untuk meracik kopi instan yang tetap praktis, tetapi tanpa tambahan gula dan tanpa meninggalkan ampas.
Setelah melalui berbagai percobaan, lahirlah Koffiku, produk kopi yang mengusung konsep ngopi sehat tanpa mengurangi cita rasa kopi premium.
“Kelebihan kopi kami adalah tanpa gula dan tanpa ampas sehingga sangat praktis diseduh. Produk ini cocok untuk pekerja kantoran, orang yang sedang diet, menjalani defisit kalori, maupun penderita diabetes yang tetap ingin menikmati kopi,” ujar Lidia, Jumat (17/7/2026).
Berbeda dengan kebanyakan kopi instan di pasaran yang menggunakan kadar gula cukup tinggi, Koffiku memosisikan diri sebagai kopi premium untuk konsumen yang lebih memperhatikan kesehatan.
Salah satu produk andalannya, Kopimix, memiliki komposisi sekitar 15 persen kopi dan 45 persen susu tanpa tambahan gula. Seluruh varian juga diproses menggunakan teknologi ekstraksi dan pengeringan khusus sehingga menghasilkan kopi instan yang larut sempurna tanpa ampas.
Harga yang ditawarkan juga relatif terjangkau untuk kelas premium, yakni sekitar Rp45 ribu per kemasan reguler dan Rp50 ribu untuk kemasan boks berisi 10 sachet yang kerap dijadikan hampers.
Lidia juga menjelaskan bahwa saat ini Koffiku telah mengembangkan sekitar 35 SKU dengan berbagai ukuran kemasan.
“Untuk kategori kopi hitam instan tanpa gula dan tanpa ampas, tersedia beberapa pilihan, antara lain, Robusta, Blend (Robusta dan Arabika), Arabika, Arabika Gold, dan Robusta Agglomerated. Selain itu, Koffiku juga menawarkan berbagai varian kopimix instan tanpa gula, seperti Cappuccino, Almond Latte, Caramel Latte, Hazelnut Latte, Vanilla Latte, serta Kopi Susu 2 in 1,” paparnya.
Di antara seluruh produk tersebut, ia mengaku kopi hitam robusta menjadi varian yang paling banyak diminati pelanggan.
Seluruh produk Koffiku sendiri dibuat menggunakan biji kopi pilihan dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk wilayah Jawa, bahan baku diperoleh dari kawasan Temanggung dan Dampit. Sementara dari Pulau Sumatra, perusahaan menggunakan kopi Mandailing yang dikenal memiliki karakter rasa kuat.
Adapun pasar Sudah Menjangkau Seluruh Indonesia. Tidak hanya melayani konsumen individu, Koffiku juga memasok produk ke berbagai sektor Horeca (Hotel, Restoran, dan Kafe) serta menjadi pemasok bahan baku bagi sejumlah UMKM minuman.
Distribusi produknya telah menjangkau hampir seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Sorong. Di Jawa Timur, Malang menjadi salah satu pasar terbesar dengan kontribusi sekitar 20–30 persen terhadap total penjualan.
Perjalanan Koffiku tidak berhenti di pasar domestik. Produk kopi premium asal Surabaya ini kini mulai merambah pasar internasional. Menurut Lidia, produknya telah dikirim ke Malaysia, Korea Selatan, dan Jepang, khususnya untuk memenuhi kebutuhan diaspora Indonesia.
Dengan adanya event ini sendiri, Lidia turut mengapresiasi penyelenggaraan JCFF yang dinilai mampu memperkuat industri kopi sekaligus membuka peluang pasar bagi pelaku UMKM.
Menurutnya, festival tersebut tidak hanya mempertemukan produsen kopi dengan konsumen, tetapi juga membangun kolaborasi antarpelaku industri sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Acara JCFF sangat keren karena mampu menggerakkan perekonomian, khususnya UMKM. Klaster kopi yang dihadirkan juga sangat bagus karena mempertemukan para penikmat kopi. Saya sangat mendukung kegiatan seperti ini,” ujar Lidia.
Dengan mengusung kampanye #KurangiGula dan #NgopiSehatTanpaDiabetes, Koffiku berharap dapat mengajak masyarakat menikmati kopi berkualitas tanpa harus mengabaikan kesehatan. (fyi/ted)






