Surabaya (beritajatim.com) — Setiap bulan, jutaan perempuan di Indonesia menggunakan pembalut sekali pakai. Namun, masih banyak yang percaya bahwa pembalut bekas harus dicuci terlebih dahulu sebelum dibuang agar lebih bersih dan tidak mencemari lingkungan.
Benarkah demikian? Faktanya, kebiasaan tersebut justru tidak dianjurkan karena tidak memberikan manfaat dari sisi kebersihan, berisiko meningkatkan paparan kuman, serta dapat mengganggu saluran pembuangan jika dilakukan dengan cara yang salah.
Mengapa Pembalut Bekas Tidak Perlu Dicuci?
Pembalut sekali pakai memang dirancang hanya untuk satu kali penggunaan. Setelah menyerap darah menstruasi, pembalut sebaiknya langsung dilipat, dibungkus, lalu dibuang ke tempat sampah.
Sebagian besar pembalut modern terbuat dari kombinasi bahan plastik, serat sintetis, dan lapisan penyerap yang tidak mudah terurai. Karena itu, mencuci pembalut tidak membuatnya menjadi lebih ramah lingkungan maupun lebih aman untuk dibuang.
Selain itu, banyak pembalut sekali pakai mengandung gel penyerap (super absorbent polymer). Ketika terkena air, gel tersebut dapat pecah dan keluar dari lapisan pembalut. Akibatnya, sisa gel bercampur darah dapat mengotori wastafel, kamar mandi, atau toilet, bahkan berpotensi menyumbat saluran pembuangan.
Mencuci pembalut juga membuat tangan bersentuhan langsung dengan darah menstruasi sehingga meningkatkan risiko kontaminasi apabila kebersihan tangan tidak dijaga dengan baik. Di sisi lain, kebiasaan ini juga menghabiskan air dalam jumlah yang tidak sedikit, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan akses air bersih.
Bagaimana dengan Pembalut Kain?
Berbeda dengan pembalut sekali pakai, pembalut kain memang dirancang untuk digunakan berulang kali. Oleh karena itu, pembalut jenis ini wajib dicuci setiap selesai digunakan agar tetap higienis.
Saat mencuci pembalut kain, sebaiknya gunakan sabun yang lembut, misalnya sabun khusus pakaian bayi atau sabun cuci yang tidak mengandung bahan kimia keras. Hindari penggunaan deterjen yang terlalu kuat karena dapat merusak serat kain sekaligus berpotensi menimbulkan iritasi pada kulit sensitif.
Bilas pembalut menggunakan air mengalir hingga benar-benar bersih dan tidak ada sisa sabun yang menempel. Setelah itu, jemur hingga benar-benar kering sebelum disimpan di tempat yang bersih dan kering untuk digunakan kembali.
Cara Membuang Pembalut Bekas yang Benar
Agar tidak mencemari lingkungan dan tetap menjaga kebersihan, pembalut bekas sebaiknya dibuang dengan cara yang tepat, yaitu:
1. Lipat pembalut bekas hingga bagian yang terkena darah berada di dalam.
2. Bungkus menggunakan pembungkus pembalut, kertas bekas, koran, atau plastik agar darah tidak terlihat dan tidak menimbulkan bau.
3. Buang ke tempat sampah yang tertutup.
Cara sederhana ini membantu menjaga kebersihan lingkungan sekaligus memudahkan petugas kebersihan dalam menangani sampah rumah tangga.
4. Jangan Buang ke Toilet atau Dikubur
Pembalut sekali pakai tidak mudah hancur di dalam air sehingga berisiko menyumbat saluran pembuangan, septic tank, hingga sistem drainase. Penyumbatan tersebut dapat menyebabkan biaya perbaikan yang tidak sedikit.
Selain itu, mengubur pembalut bekas di dalam tanah juga bukan solusi yang tepat. Material plastik dan bahan sintetis pada pembalut membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Jika dibuang sembarangan, limbah tersebut dapat mencemari tanah dan lingkungan sekitar. [fyi/suf]






