Ponorogo (beritajatim.com) – Stadion Gelora Batoro Katong (GBK) Ponorogo kini berada di persimpangan kepentingan. Di satu sisi, pemerintah ingin menghidupkan kembali geliat ekonomi melalui konser musik berskala besar. Di sisi lain, penggunaan stadion untuk konser berpotensi mengancam rumput berkualitas yang baru direvitalisasi dengan standar FIFA.
Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Ponorogo mengakui telah menerima sejumlah permohonan dari event organizer untuk menggelar konser di Stadion Gelora Batoro Katong. Rencana konser musik pada akhir Agustus nanti, menjadi salah satu pemicu munculnya pembahasan tersebut. Namun, hingga kini belum ada keputusan final, karena pemerintah masih mengkaji berbagai risiko yang mungkin timbul.
Kepala Disbudparpora Ponorogo Judha Slamet Sarwo Edi mengatakan, permohonan penggunaan stadion muncul karena Ponorogo belum memiliki fasilitas konser dengan kapasitas besar. Menurutnya, kebutuhan akan ruang pertunjukan juga menjadi bagian dari upaya menghidupkan aktivitas ekonomi daerah.
“Ya, secara prosedur, event organizer mengajukan permohonan untuk melakukan event di stadion. Karena kita ini belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk konser. Lama Ponorogo tidak ada konser,” ungkap Judha, Rabu (15/7/2026).
Judha menjelaskan, keberadaan sebuah acara besar tidak hanya menjadi hiburan masyarakat. Lebih dari itu, kegiatan tersebut mampu menggerakkan roda ekonomi. Dia menyebut data Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan bahwa penyelenggaraan berbagai event mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Dengan adanya event-event itu mampu mengungkit perekonomian dan mampu meningkatkan pendapatan dari masyarakat. Ini tentunya juga harus kita pikirkan bersama,” katanya.
Menurut Judha, penggunaan Alun-Alun Ponorogo sebagai lokasi konser dinilai kurang efektif. Biaya yang harus dikeluarkan penyelenggara untuk memasang pagar pembatas dan memenuhi persyaratan teknis cukup besar. Kondisi itu membuat banyak penyelenggara lebih memilih stadion sebagai lokasi acara.
[irp posts=”1528179″ ]
“Prinsipnya kita memfasilitasi. Karena apa, ya ini semua demi masyarakat. Kemudian ini demi perekonomian juga, supaya tetap berputar. Ketika Ponorogo tidak ada event, Ponorogo ini sepi sekali,” ungkapnya.
Meski demikian, Disbudparpora Ponorogo tidak ingin gegabah memberikan izin. Pemkab Ponorogo, kata Judha saat ini masih menyusun skema penggunaan stadion agar konser tetap bisa digelar. Namun, tanpa mengorbankan fasilitas olahraga yang baru dibenahi. Sejumlah daerah yang lebih dulu menggelar konser di stadion juga menjadi bahan studi.
“Kita juga tidak serta-merta. Tentunya memerlukan kajian-kajian dulu. Kalau memang ada konsekuensi-konsekuensi, tanggung jawab dan sebagainya, ini sedang kita rumuskan. Kita sedang studi ke Madiun atau tempat-tempat lain,” jelas Judha.
Disbudparpora juga membuka peluang memberikan izin konser apabila seluruh persyaratan dipenuhi. Selain harus ada jaminan perlindungan aset stadion, penyelenggaraan konser juga diharapkan memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Sebab selama beberapa tahun terakhir, pengelolaan Stadion Gelora Batoro Katong belum memberikan pemasukan berarti.
“Insyaallah begitu. Banyak event organizer yang menginginkan di sana. Yang kedua, stadion ini juga ada target pendapatan. Beberapa tahun ini zero, kami tidak mendapatkan apa-apa dari stadion. Oleh karenanya bagaimana ada sedikit kontribusi ke PAD,” tegasnya.
Di balik peluang tersebut, ancaman terhadap kondisi lapangan tetap menjadi perhatian utama. Rumput Stadion Gelora Batoro Katong baru saja direvitalisasi dan menjadi salah satu fasilitas yang dipersiapkan untuk mendukung kegiatan olahraga. Pemerintah tidak ingin kualitas lapangan menurun akibat aktivitas konser.
“Yang kita khawatirkan semuanya seperti itu. Karena kemarin rumputnya juga direvitalisasi. Sekarang ini supaya sama-sama jalannya. Olahraga jalan, jogging track juga kita benahi. Tetapi kegiatan event juga harus kita fasilitasi,” katanya.
Judha berharap nantinya bisa ditemukan titik temu antara kepentingan olahraga dan ekonomi. Menurutnya, konser dapat menjadi bagian dari pengembangan pariwisata sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengorbankan fungsi utama stadion.
“Mudah-mudahan dengan adanya event-event seperti ini mampu mengungkit perekonomian yang ada di Ponorogo. Impact-nya adalah kesejahteraan masyarakat. Olahraga hidup, kebudayaan hidup, pariwisata hidup, pendapatan juga masuk,” pungkasnya.
Sebagai informasi, rumput Stadion Batoro Katong menggunakan jenis Zoysia Japonica yang didatangkan dari Jepang dengan nilai sekitar Rp678 juta. Rumput tersebut ditanam pada Agustus 2024 sebagai bagian dari revitalisasi stadion agar memenuhi standar lapangan sepak bola yang lebih baik. Saat itu, penggunaan stadion untuk konser sempat dilarang demi menjaga kualitas rumput. Kini, kebijakan tersebut mulai dikaji ulang seiring munculnya kebutuhan menghadirkan konser besar untuk mendongkrak perekonomian daerah. [end/aje]






