Madiun (beritajatim.com) – Pemenuhan kuota siswa di Sekolah Rakyat gratis Kabupaten Madiun menunjukkan tren positif menjelang operasional perdana pada 31 Juli 2026. Meski jenjang SMP dan SMA sudah hampir memenuhi target, tantangan berat justru berada pada pemenuhan kuota untuk tingkat Sekolah Dasar (SD).
Bupati Madiun, Hari Wuryanto, mengungkapkan bahwa dari total target kapasitas 360 kursi, saat ini baru terisi sekitar 270 anak. Minimnya angka pendaftaran di tingkat SD disinyalir karena faktor psikologis orang tua yang belum siap melepas anak usia dini ke sistem asrama (boarding school).
“Persiapan mulai dari guru dan siswa insyaallah sudah siap, tinggal pemenuhan untuk tingkat SD. Istilahnya, sek urung mentolo (masih belum tega) melepaskan putranya,” ujar Hari Wuryanto di sela acara Open House Sekolah Rakyat di Madiun, Selasa (14/7/2026).
Hari meyakinkan para wali murid bahwa manajemen sekolah telah menyiapkan ekosistem pendampingan yang ketat dan humanis demi kenyamanan anak-anak, termasuk untuk tingkat SD.
“Nanti kalau mereka tahu di sini dikelola dan dibina dengan baik, ada guru bantu serta ibu asuh yang ikut mendampingi dan tidur bersama anak-anak di sini, insyaallah orang tua akan mengikhlaskan,” jelasnya.

Untuk menjamin kesejahteraan anak didik, seluruh fasilitas hidup dan belajar di asrama ini dipastikan gratis. Penyelenggara menanggung penuh kebutuhan makan, minum, seragam sekolah, hingga sepatu seluruh siswa.
Selain fasilitas fisik, kesiapan tenaga pengajar juga telah dimatangkan. Saat ini sudah ada 30 guru bantu yang disiagakan untuk mengajar jenjang SD dan SMP selama tiga bulan pertama, sembari menunggu tenaga pengajar definitif dari Kementerian Sosial pusat. Jumlah ini di luar keberadaan ibu asuh atau pendamping asrama.
Melalui agenda open house bertema “Lima Sila Sejuta Cerita, Tahun Pertama Menuju Cerita Indah”, Pemkab Madiun sengaja mengajak orang tua melihat langsung bukti nyata pembentukan karakter anak didik dari angkatan sebelumnya asal Ponorogo.
“Bisa kita lihat sendiri, bagaimana perubahan pakaiannya, sikapnya, hingga kemampuannya. Kita tidak sekadar menciptakan anak-anak ini menjadi pandai saja, tetapi juga berkarakter,” tegas Hari.
Di akhir, Bupati optimis bahwa minimnya pendaftaran SD hanya dinamika awal di tahun pertama operasional. “Tahun depan, kami optimis animo masyarakat akan semakin tinggi setelah melihat langsung hasilnya di tahun pertama ini,” pungkasnya. (rbr/but)






