Kediri (beritajatim.com) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri mengintensifkan program home visit Cegah Anak Tidak Sekolah (ATS) untuk menjangkau anak-anak yang belum melanjutkan pendidikan. Langkah tersebut dilakukan menyusul masih adanya sekitar 800 hingga 1.000 kuota peserta didik baru di SMP Negeri yang belum terisi pada tahun ajaran 2026/2027.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengatakan kekurangan peserta didik terutama terjadi di sejumlah sekolah yang berada di wilayah pinggiran. Karena itu, seluruh guru dan tenaga kependidikan diterjunkan untuk melakukan pendataan langsung ke masyarakat melalui program home visit.
“Kita masih kekurangan sekitar 1.000. Ya 800 sampai 1.000,” ujarnya, Senin (13/7/2026).
Muhsin menjelaskan, beberapa sekolah yang hingga kini masih memiliki kuota kosong di antaranya SMP Negeri Papar 2, SMP Negeri Kras 3, SMP Negeri Semen 2, SMP Negeri Kandangan 2, SMP Negeri Plosoklaten 3, SMP Negeri Plemahan 2, serta SMP Negeri Purwoasri 1 dan Purwoasri 2.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi tingginya minat masyarakat terhadap sekolah-sekolah yang dianggap favorit. Akibatnya, sejumlah SMP Negeri mengalami kelebihan peminat, sementara sekolah lain masih kekurangan siswa.
“Kami menganalisis ini sebagian anak-anak berebut di sekolah-sekolah favorit sehingga menumpuk seperti SMP Ngasem 1 dan Ngasem 2. Kalau mereka mau berbagi sebenarnya ada yang ke Pagu, kemudian ke Gurah, Plosoklaten itu sebenarnya tidak akan terjadi,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdik Kabupaten Kediri kembali menyisir data anak-anak yang belum bersekolah, baik yang belum diterima di sekolah negeri maupun swasta. Pendataan dilakukan melalui program home visit Cegah ATS, kemudian hasilnya digunakan untuk mendistribusikan calon peserta didik ke sekolah yang masih memiliki daya tampung.
Selain melibatkan guru dan tenaga kependidikan, Disdik juga mengajak para siswa untuk membantu mendata teman-temannya yang belum melanjutkan pendidikan agar dapat segera dijangkau.
“Kita sedang melakukan penjangkauan kembali. Termasuk anak-anak nanti akan kita beri tugas, siapa temanmu yang belum sekolah. Nanti akan kita data, kita akan jemput mereka,” terangnya.
Muhsin menambahkan, program home visit juga berhasil mengidentifikasi berbagai faktor yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan. Kendala yang ditemukan antara lain persoalan ekonomi keluarga hingga biaya transportasi menuju sekolah.
Ia mencontohkan salah satu siswa berprestasi yang sempat tidak melanjutkan sekolah karena keterbatasan biaya. Berkat pendataan melalui home visit, siswa tersebut akhirnya dapat melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Plemahan.
“Dari kegiatan home visit Cegah ATS itu ada anak yang belum diterima di sekolah karena alasan ekonomi, seperti bingung biaya sekolah maupun ongkos transportasi. Padahal anak itu ranking satu di SD. Alhamdulillah kita temukan berkat kegiatan home visit dan sekarang masuk di SMP 1 Plemahan. Ini salah satu temuan guru dan tenaga kependidikan saat melaksanakan home visit Cegah ATS,” jelasnya.
Disdik Kabupaten Kediri berharap program tersebut dapat terus memperluas akses pendidikan bagi seluruh anak di Kabupaten Kediri melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, guru, dan masyarakat.
Ke depan, pihaknya juga akan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih sekolah terdekat yang masih memiliki daya tampung sehingga pemerataan jumlah peserta didik di seluruh SMP Negeri dapat terwujud.
“Ini menjadi catatan kami bagaimana tahun depan bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat agar memilih sekolah yang terdekat di mana pun,” pungkas Muhsin. [nm/aje]






