Malang (beritajatim.com)- Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), puluhan tokoh pesantren, akademisi, aktivis muda, hingga santri berkumpul dalam forum **Jagongan Jelang Muktamar NU** di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Al Hamid, Ganjaran, Gondanglegi, Kabupaten Malang, Rabu (9/7/2026) malam.
Mengangkat tema Pesantren, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan, forum yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut menjadi ruang diskusi untuk merumuskan arah penguatan peran pesantren sekaligus menghadapi tantangan abad kedua NU.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Pengasuh Ponpes Bahrul Ulum Al Hamid KH Atho’ Lukman Hakim, Pengasuh Pesantren Rakyat sekaligus Ketua ISNU Kabupaten Malang KH Abdullah Sam, Bendahara PC GP Ansor Kabupaten Malang Syahrul Karim, CEO Tugu Media Group Irham Thoriq, CEO Sabda Academy M. Yasin Arief, Ketua Jaringan Nahdliyin Muda (JNM) M. Mahrus, hingga perwakilan akademisi, Gusdurian, dosen, santri, dan mahasiswa.
Pesantren Harus Menjadi Pusat Peradaban
Dalam pemaparannya, KH Atho’ Lukman Hakim menegaskan bahwa seluruh kader dan pengurus NU perlu kembali meluruskan niat pengabdian kepada Allah SWT.
Menurutnya, setiap langkah dan kebijakan organisasi hendaknya berorientasi pada kemaslahatan umat serta mengedepankan nilai keikhlasan dalam berkhidmat.
Ia juga menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan, tetapi telah berkembang menjadi sebuah sistem nilai yang membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak masyarakat.
“Pesantren bukan hanya tempat mencari ilmu. Pesantren adalah budaya yang memiliki kemampuan untuk terus merespons perkembangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan,” ujarnya.
NU Diminta Tetap Independen
Sementara itu, KH Abdullah Sam mengingatkan pentingnya menjaga tradisi pesantren, termasuk tradisi spiritual yang selama ini menjadi kekuatan utama NU.
Ia menilai keberadaan wirid, doa para kiai, santri, dan masyarakat menjadi fondasi moral yang menjaga kehidupan berbangsa.
Dalam kesempatan itu, ia juga berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tetap menjadi organisasi yang mandiri dan tidak mudah dipengaruhi kepentingan politik maupun kelompok tertentu.
Menurutnya, independensi organisasi menjadi modal penting agar NU tetap mampu menjalankan fungsi sebagai pelayan umat dan kekuatan masyarakat sipil.
Pesantren Perlu Kuasai Teknologi dan Bangun Narasi Positif
CEO Sabda Academy, M. Yasin Arief, menyoroti pentingnya membangun citra positif pesantren di tengah derasnya arus informasi digital.
Ia menilai pesantren perlu lebih aktif menyampaikan berbagai kontribusi positif kepada masyarakat agar tidak kalah oleh narasi negatif yang berkembang di media sosial.
Selain itu, ia mendorong pesantren memperkuat tiga aspek utama, yakni penguasaan teknologi, pengembangan sains, dan pembentukan cara berpikir yang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Santri Harus Siap Menghadapi Era Industri
Pandangan senada disampaikan CEO Tugu Media Group Irham Thoriq. Ia menilai perubahan struktur masyarakat dari agraris menuju industri harus direspons melalui pembaruan pendidikan pesantren.
Menurutnya, santri tidak cukup hanya memiliki bekal ilmu agama, tetapi juga harus dibekali keterampilan vokasional, kreativitas, kemampuan berwirausaha, serta wawasan global agar mampu bersaing di dunia kerja.
“Pesantren perlu menyiapkan generasi yang siap menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.
Hasil Diskusi: Lahir Sembilan Seruan Moral Jelang Muktamar NU
Sebagai penutup forum, para peserta menyepakati sembilan rekomendasi yang menjadi seruan moral menjelang Muktamar NU.
Sembilan poin tersebut meliputi:
* Seluruh kader dan pengurus NU diminta kembali menata niat pengabdian semata-mata untuk mencari ridha Allah SWT melalui khidmah yang ikhlas.
* NU diharapkan kembali pada khittah sebagai kekuatan masyarakat sipil yang fokus melayani kebutuhan umat.
* Agama, budaya, dan negara harus terus berjalan selaras serta saling menguatkan dalam kehidupan berbangsa.
* Pesantren perlu membangun narasi positif sekaligus memperkuat penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pola pikir yang relevan dengan perkembangan zaman.
* Pesantren dan NU diharapkan terbuka terhadap kritik serta masukan dari berbagai kalangan.
* Pendidikan pesantren perlu mempersiapkan santri menghadapi era industri melalui keterampilan vokasional, kreativitas, dan pola pikir global.
* Peserta forum mendorong adanya standar kemampuan membaca Al-Qur’an bagi siswa Madrasah Aliyah sebelum melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.
* Sistem pendidikan pesantren dinilai telah terbukti melahirkan banyak tokoh bangsa sehingga perlu terus dipertahankan dan dikembangkan untuk menghadapi abad kedua NU.
* PBNU diharapkan tetap independen dan terbebas dari intervensi pihak luar, termasuk kepentingan politik maupun kekuasaan.
Forum “Jagongan Jelang Muktamar NU” menjadi salah satu ruang refleksi penting bagi kalangan pesantren dan generasi muda Nahdliyin dalam merumuskan arah organisasi ke depan. Selain menegaskan pentingnya menjaga tradisi keilmuan, forum tersebut juga menekankan perlunya transformasi pendidikan pesantren agar mampu menjawab tantangan era digital dan dunia industri tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah. [aje]






