Surabaya (beritajatim.com) – Seorang perempuan lanjut usia (lansia) berinisial R (61) meninggal dunia setelah tertamper kereta api di perlintas rel ruas Jalan Sememi Baru, Benowo, Surabaya pada Rabu (8/7/2026).
Lansia tersebut diketahui tertamper kereta ketika sedang berjalan kaki hendak menyeberangi rel. Ia diduga tidak mendengar teriakan larangan menyeberang dari penjaga palang pintu kereta swadaya, meski penjaga palang sudah berkali-kali berteriak.
Kanitlantas Polsek Benowo, Iptu Gatot Wijanarko, mengatakan bahwa kejadian itu bermula ketika R jalan kaki seorang diri dan hendak menyeberangi rel sekitar pukul 06.00 WIB pagi tadi.
“Petugas penjaga perlintasan kereta api swadaya yang saat itu berjarak kurang lebih 100 meter dengan posisi korban. Korban berjalan seorang diri akan menyeberang jalur kereta api sisi selatan, korban terlihat berjalan dari utara ke selatan,” ujar Gatot pada Rabu (8/7/2026).
Teriakan dari penjaga palang pintu kereta yang tidak didengar itu, lantas korban masih tetap berjalan. Hingga akhirnya ia tertabrak Kereta Api Blora Sura 438 jurusan Cepu-Pasar Turi yang berjalan dari barat ke timur.
“Dengan adanya kecelakaan tersebut, korban terpental sejauh kurang lebih 10 meter. Setelah dilakukan olah TKP dapat disimpulkan sementara bahwa korban meninggal dunia diduga karena terserempet kereta api yang sedang melintas,” pungkasnya.
Identitas perempuan lansia yang tewas tersambar kereta api (KA), di pelintasan rel Jalan Sememi Baru, Benowo, Surabaya pada Rabu, 8 Juli 2026 akhirnya terungkap.
Kabid Kedaruratan dan Logistik (Darlog) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya, Linda Novanti, menyebutkan bahwa korban merupakan lansia asal Garut, Jawa Barat, sesuai identitas kependudukan yang ditemukan petugas.
“Korban berinisial R, usianya 61 tahun, jenis kelamin perempuan, dan asalnya dari Kampung Cirapuhan, Garut, Jawa Barat,” ucapnya. (rma/ted)






