Surabaya (beritajatim.com) – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), media sosial, dan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Informasi dapat diakses dalam hitungan detik, komunikasi berlangsung tanpa batas ruang, dan berbagai pekerjaan semakin mudah dilakukan secara otomatis. Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul tantangan berupa berkurangnya ruang refleksi, melemahnya interaksi sosial yang mendalam, serta menurunnya pemahaman generasi muda terhadap nilai-nilai budaya dan spiritualitas.
Merespons fenomena tersebut, Pusat Studi Kewijayakusumaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (UWKS) bekerja sama dengan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menggelar Purnama Wijaya: Cangkrukan Budaya Padang Bulan di Pelataran Candi Penataran UWKS, Selasa (30/6/2026).
Mengusung tema “Ngudi Kawruh Ilmu, Nggayuh Kamulyaning Jaman”, kegiatan ini menghadirkan akademisi dan budayawan untuk membahas pentingnya menjaga identitas budaya di tengah derasnya transformasi teknologi.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik UWKS, Dr. Ir. Endang Retno Wedowati, M.T. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter kuat dan berakar pada nilai-nilai budaya.

“Perkembangan AI dan teknologi digital harus dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan. Namun, kemajuan tersebut perlu diimbangi dengan nilai-nilai budaya, etika, dan karakter agar tidak menghilangkan jati diri bangsa,” ujarnya.
Kegiatan ini menghadirkan Sekretaris Jenderal Dewan Kebudayaan Surabaya, Dr. Probo Darono Yakti, serta Ki Bagus Mpu Batu dari Yayasan Pasopati Cakra Nusantara sebagai narasumber utama.
Dalam pemaparannya, Dr. Probo Darono Yakti menekankan bahwa kebudayaan harus menjadi fondasi utama dalam menghadapi percepatan perkembangan teknologi.
“AI dapat membantu manusia mengolah informasi dan mempercepat pekerjaan, tetapi teknologi tidak dapat menggantikan nilai, kebijaksanaan, dan karakter yang dibangun oleh kebudayaan. Masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat menjaga identitas budayanya,” jelasnya.
Menurut Probo, AI dan media sosial semestinya dimanfaatkan sebagai sarana memperluas literasi budaya, mendokumentasikan pengetahuan lokal, serta memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia.

Sementara itu, Ki Bagus Mpu Batu mengajak peserta memandang perkembangan teknologi dari perspektif spiritualitas dan budaya adiluhung Jawa. Ia menilai kemajuan teknologi harus diimbangi dengan penguatan kesadaran batin agar manusia tidak kehilangan arah kehidupan.
“Budaya adiluhung Jawa mengajarkan keseimbangan antara akal, rasa, dan spiritualitas. Di era AI dan media sosial, manusia semakin mudah mendapatkan informasi, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Karena itu, kita perlu kembali menghidupkan nilai-nilai leluhur yang mengajarkan laku hidup, kesadaran diri, tata krama, dan hubungan harmonis dengan sesama, alam, serta Sang Pencipta,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa tradisi Padang Bulan yang menjadi ruh kegiatan Purnama Wijaya bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang kontemplasi dan penguatan nilai-nilai kemanusiaan.
“Bulan purnama adalah simbol pencerahan. Dalam budaya Jawa, Padang Bulan menjadi momentum untuk menata cipta, rasa, dan karsa. Ketika teknologi berkembang begitu cepat, budaya adiluhung menjadi penuntun agar manusia tetap memiliki jati diri dan tidak kehilangan kebijaksanaan hidup,” tambahnya.
Ketua Pusat Studi Kewijayakusumaan LPPM UWKS, Dr. Jarmani, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan ruang dialog budaya di lingkungan perguruan tinggi sekaligus memperkuat karakter Kewijayakusumaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur Nusantara.
Selain diskusi budaya, kegiatan juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan seni dan musik kontemporer yang menunjukkan bahwa budaya mampu berkembang secara kreatif tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Melalui forum tersebut, UWKS bersama Dewan Kebudayaan Surabaya menegaskan bahwa budaya dan teknologi bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Sebaliknya, budaya menjadi kompas moral yang mengarahkan pemanfaatan teknologi agar memberi manfaat bagi kemajuan peradaban.
Di tengah pesatnya perkembangan AI dan media sosial, solusi yang ditawarkan bukanlah menolak kemajuan teknologi, melainkan membangun keseimbangan antara kecerdasan digital, kecerdasan budaya, dan kecerdasan spiritual. Dengan cara itu, generasi muda diharapkan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas, karakter, serta nilai-nilai budaya adiluhung yang menjadi fondasi bangsa.
Purnama Wijaya menjadi ikhtiar bersama untuk memastikan bahwa ketika teknologi semakin maju, manusia tetap tumbuh sebagai pribadi yang berbudaya, berkarakter, dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat. [but]






