Surabaya (beritajatim.com) – Brasil memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah bangkit dari ketertinggalan dan menundukkan Jepang dalam laga babak 32 besar, Selasa (30/6/2026). Di balik kemenangan itu, ketenangan pelatih Carlo Ancelotti menjadi faktor utama yang mengubah jalannya pertandingan.
Tim Samba sempat tertinggal 0-1 hingga turun minum. Namun, perubahan pendekatan yang dilakukan Ancelotti pada babak kedua membuat permainan Brasil jauh lebih agresif dan efektif hingga akhirnya membalikkan keadaan.
Pelatih asal Italia itu menegaskan timnya tidak pernah kehilangan keyakinan meski berada dalam posisi tertinggal.
“Kami tidak kehilangan kesabaran. Sebenarnya kami sudah bermain cukup baik pada babak pertama. Di babak kedua kami lebih banyak mengirim umpan silang ke kotak penalti. Kami memiliki banyak pilihan, baik pemain di lapangan maupun di bangku cadangan. Jepang bukan lawan yang mudah karena mereka sangat terorganisasi dan bermain dengan intensitas tinggi,” ujar Ancelotti usai laga.
Menurut pelatih berpengalaman tersebut, kesalahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sepak bola. Yang terpenting adalah bagaimana tim mampu bangkit dan tetap percaya diri hingga pertandingan berakhir.
“Semua orang pasti melakukan kesalahan karena tidak ada yang sempurna. Namun, kami tahu bagaimana terus melangkah. Itulah yang dilakukan tim pada babak kedua. Tidak ada seorang pun yang berpikir kami tidak akan mencetak gol. Mentalitas sangat penting. Menderita dalam pertandingan adalah hal yang normal, begitu pula rasa lega setelah berhasil melewatinya,” katanya.

Perubahan Strategi Jadi Titik Balik
Ancelotti melakukan pergantian pemain saat jeda pertandingan dengan memasukkan Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang mengalami cedera ringan. Pergantian tersebut terbukti meningkatkan daya serang Brasil menghadapi pertahanan rapat Jepang yang menerapkan formasi lima bek.
Gelandang Bruno Guimaraes mengungkapkan, Jepang tampil disiplin sehingga ruang gerak Brasil sangat terbatas pada babak pertama.
“Situasi di lapangan sangat padat sehingga kami kesulitan memainkan permainan kami. Mereka bertahan dengan formasi 5-4-1 sehingga sulit ditembus. Saat jeda, pelatih meminta kami tampil lebih dominan dan mengirim lebih banyak pemain ke kotak penalti. Dari situlah gol akhirnya tercipta,” ujarnya.
Selain perubahan taktik, para pemain menilai faktor mental menjadi pembeda terbesar pada babak kedua.
Pemain sayap Brasil, Rayan mengatakan bahwa Ancelotti terus menanamkan rasa percaya diri kepada seluruh pemain.
“Dia meminta kami tetap sabar karena kami adalah tim yang selalu ingin mengendalikan pertandingan dan mencetak gol. Kami yakin bisa membalikkan keadaan dan akhirnya memenangkan pertandingan,” kata Rayan.
Salah satu keputusan penting Ancelotti adalah mempertahankan Casemiro di lapangan, meski gelandang senior itu telah menerima kartu kuning sejak menit ke-14. Keputusan tersebut terbukti tepat ketika Casemiro mencetak gol penyeimbang melalui sundulan pada menit ke-56.
Casemiro mengungkapkan bahwa pelatihnya kembali mengingatkan seluruh pemain untuk tetap tenang saat memasuki babak kedua.
“Ancelotti kembali meminta kami tetap tenang. Dia mengatakan peluang pasti akan datang karena kami terus menekan dan bermain di area lawan. Mentalitas tim pantas mendapat apresiasi karena kami terus menyerang sepanjang pertandingan,” ujar Casemiro.
Penyerang Matheus Cunha menilai Brasil bermain dengan rasa urgensi yang lebih tinggi setelah turun minum tanpa kehilangan kesabaran. Kombinasi kedua aspek tersebut menjadi fondasi kebangkitan tim.
“Tidak pernah mudah menghadapi lawan seperti Jepang. Mereka bermain dengan penuh kebanggaan. Pada babak kedua kami masuk dengan tekad untuk menguasai pertandingan dan memaksakan gaya bermain kami. Syukurlah semuanya berjalan sesuai harapan. Kami sebenarnya mencoba hal yang sama sejak babak pertama, tetapi rasa urgensi kami jauh lebih besar pada babak kedua,” katanya.
Gol kemenangan akhirnya dicetak Gabriel Martinelli pada masa injury time. Saat bangku cadangan Brasil larut dalam selebrasi, Ancelotti justru tetap menunjukkan ekspresi tenang, seolah telah mengetahui timnya akan menemukan jalan menuju kemenangan.
Martinelli mengaku ketenangan sang pelatih memberikan dampak besar terhadap psikologis seluruh pemain.
“Ancelotti adalah sosok yang luar biasa. Saat jeda pertandingan dia memberi kami kepercayaan diri dan mengatakan bahwa kami pasti akan mencetak gol serta membalikkan keadaan. Tidak penting kapan gol itu datang. Kami merasakan ketenangannya dan itu membuat kami lebih rileks,” ujar Martinelli. (faw/aje)






