Ringkasan Berita:
- Warga Desa Dagangan, Madiun, mengeluhkan air PDAM keruh, berbau amis, dan tidak layak konsumsi.
- Keluhan telah berlangsung sekitar tiga tahun sehingga sebagian warga memilih membeli air dari sumber lain.
- PDAM menyebut masalah dipicu pipa tua dan hanya berdampak pada sekitar seratus sambungan rumah.
Madiun (beritajatim.com) – Kualitas layanan Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Dharma Purabaya Kabupaten Madiun kembali menjadi perhatian publik setelah sejumlah pelanggan mengeluhkan kondisi air yang tidak layak pakai.
Air yang dialirkan ke rumah warga disebut tidak hanya keruh, tetapi juga mengeluarkan bau amis hingga bacin, sehingga sebagian masyarakat memilih tidak lagi menggunakannya untuk kebutuhan konsumsi.
Keluhan tersebut salah satunya disampaikan oleh pelanggan di Desa Dagangan, Kecamatan Dagangan, Giman, yang menyebut persoalan kualitas air bukan hal baru. “Kadang airnya keruh, baunya amis bahkan seperti bacin. Kalau untuk diminum jelas tidak berani,” ujar Giman, Senin (29/6/2026).
Ia mengungkapkan, selama kurang lebih tiga tahun terakhir keluarganya sudah tidak menggunakan air PDAM untuk memasak maupun kebutuhan minum. Sebagai gantinya, mereka memilih membeli air dari sumber lain demi menjaga kesehatan.
“Kalau untuk mandi atau mencuci masih dipakai, tapi untuk masak dan minum sudah tidak. Kami cari air lain karena merasa tidak layak dikonsumsi,” katanya.
Selain masalah kualitas air, Giman juga menyoroti beban biaya yang menurutnya masih dirasakan pelanggan. Ia mengaku beberapa kali harus mengganti perangkat sambungan air yang rusak dengan biaya mandiri.
“Meteran pernah ganti sekali, stop kran juga sudah tiga kali. Sekali ganti sekitar Rp90 ribu,” keluhnya.
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Unit PDAM Kecamatan Dagangan, Harianto, membenarkan adanya laporan air berbau dan keruh dari sejumlah pelanggan. Namun ia menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak terjadi secara merata.
Menurutnya, kondisi itu dipicu oleh usia jaringan pipa yang sudah tua sehingga endapan di dalam pipa ikut terbawa saat aliran air meningkat.
“Karena usia pipa sudah lama, ada endapan yang menyebabkan air berbau atau keruh. Kami melakukan flushing atau pengurasan jaringan secara berkala setiap beberapa minggu,” jelas Harianto.
Ia menambahkan, peningkatan keluhan mulai terjadi sejak awal tahun 2026, namun hanya sekitar seratus sambungan rumah yang terdampak langsung. Gangguan aliran juga disebut terjadi pada jam-jam tertentu.
“Kalau air kurang lancar biasanya hanya saat pagi dan sore karena jam pemakaian sedang tinggi. Sedangkan yang berbau hanya di beberapa titik, jumlahnya sekitar seratus pelanggan,” katanya.
Terkait biaya penggantian perangkat, Harianto menegaskan bahwa water meter menjadi tanggung jawab PDAM dan tidak dipungut biaya, sedangkan stop kran setelah meter menjadi tanggungan pelanggan.
Meski demikian, persoalan kualitas air yang dikeluhkan warga dalam jangka waktu lama menjadi tantangan serius bagi PDAM Tirta Dharma Purabaya. Sebagai penyedia layanan publik, masyarakat berharap air yang dialirkan memenuhi standar kelayakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk konsumsi. [rbr/suf]






