Ringkasan Berita:
- BPBD Lamongan memetakan 89 desa di 15 kecamatan berpotensi mengalami kekeringan pada musim kemarau 2026.
- Hingga kini belum ada permintaan distribusi air bersih meski status siaga kekeringan telah ditetapkan.
- BPBD menyiapkan armada tangki, tandon air, serta rencana kontinjensi berdasarkan tingkat kerawanan.
- Petani diimbau beralih ke tanaman yang lebih hemat air sebagai langkah antisipasi kemarau.
Lamongan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lamongan mengintensifkan upaya mitigasi setelah menetapkan status siaga bencana kekeringan menghadapi musim kemarau 2026. Berdasarkan hasil pemetaan terbaru, sebanyak 89 desa di 15 kecamatan masuk dalam wilayah yang berpotensi mengalami krisis air bersih.
Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Lamongan, Ery S. Rosidi, mengatakan hingga saat ini belum ada permintaan distribusi air bersih dari desa-desa yang diperkirakan terdampak. Meski demikian, seluruh skenario penanganan darurat telah dipersiapkan sebagai langkah antisipasi.
“Sementara ini belum ada permintaan dropping air bersih dari desa maupun wilayah yang mengalami kekeringan. Namun seluruh wilayah yang berpotensi sudah kami mitigasi dalam rencana kontinjensi, mulai kategori sangat kritis, kritis, sedang hingga wilayah yang tidak terdampak,” kata Ery, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Ery, BPBD telah menggelar rapat koordinasi bersama Tim Reaksi Cepat (TRC), organisasi perangkat daerah (OPD), serta lintas sektor untuk memetakan wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan. Hasil pemetaan tersebut menjadi dasar penyusunan rencana kontinjensi yang mengelompokkan daerah berdasarkan tingkat kerawanan, jumlah desa, dusun, hingga estimasi jumlah warga terdampak.
Selain menyiapkan penanganan darurat, BPBD juga mengimbau petani menyesuaikan pola tanam selama musim kemarau dengan memilih komoditas yang lebih hemat air.
“Kami juga mengimbau petani mengubah pola tanam dari tanaman yang membutuhkan banyak air seperti padi ke tanaman yang lebih hemat air, misalnya kedelai, kacang hijau atau kangkung,” ujarnya.
Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi embung, telaga, dan waduk untuk memastikan ketersediaan cadangan air. Armada truk tangki juga telah disiagakan lengkap dengan penentuan titik pengambilan air terdekat agar distribusi dapat dilakukan lebih cepat jika sewaktu-waktu dibutuhkan masyarakat.
Tidak hanya itu, BPBD telah menyiapkan berbagai perlengkapan pendukung, mulai dari tandon air, tandon terpal, jeriken, hingga terpal. Sementara Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD terus menyebarluaskan informasi prakiraan cuaca dari BMKG sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai penghematan penggunaan air, larangan membakar sampah, dan langkah menghadapi cuaca panas.
“Untuk bertahan menghadapi fenomena El Nino Godzilla, tidak hanya dibutuhkan jiwa yang sehat, tetapi juga jiwa yang siap,” tutur Ery.
Berdasarkan data BPBD Lamongan tahun 2026, terdapat 44 desa berstatus desa kritis air dan 45 desa masuk kategori desa langka air, sehingga total mencapai 89 desa yang tersebar di 15 kecamatan.
Kecamatan Tikung dan Modo menjadi wilayah dengan potensi terdampak terbesar, masing-masing memiliki 11 desa rawan kekeringan. Disusul Kecamatan Kembangbahu, Glagah, Sugio, Mantup, Deket, Lamongan, Sarirejo, Solokuro, Bluluk, Sambeng, Sukodadi, Kedungpring, dan Sukorame yang juga masuk dalam peta kerawanan BPBD.
BPBD Lamongan memastikan akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan selama musim kemarau berlangsung. Distribusi air bersih akan segera dilakukan apabila terdapat laporan dan permintaan dari desa-desa yang mulai mengalami krisis air bersih.
“Kami akan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan siap melakukan distribusi air bersih apabila mulai muncul permintaan dari masyarakat terdampak,” pungkas Ery. [fak/beq]






