Diana Ross dan Roberto Baggio sama-sama dikenang karena kegagalan di titik penalti dalam Piala Dunia Amerila Serikat 1994. Tak ada yang menyangka, Piala Dunia akan dibuka dengan kegagalan tendangan penalti seorang seniman tarik suara dari Amerika dan ditutup dengan kegagalan serupa seorang seniman sepak bola dari Italia.
Ross melakukannya saat pembukaan turnamen di Stadion Soldier Field, Chicago, Amerika Serikat, 17 Juni 1994. Skenarionya, sembari menyanyikan lagu “I’m Coming Out’, penyanyi perempuan berkulit hitam itu menendang penalti ke gawang yang telah dirancang khusus agar terbelah saat bola masuk.
Kendati dari jarak dekat, Ross gagal: bola melenceng jauh ke sisi kanan tiang gawang. Namun ini bukan pertandingan sepak bola. Jadi gawang tetap terbelah dan, show must go on, Diana Ross terus bernyanyi sampai akhir di hadapan sekitar 63.000 penonton dan miliaran pemirsa televisi. Orang tertawa dan bertepuk tangan.
I’m coming out, I want the world to know
I got to let it show
Sebulan kemudian, 17 Juli 1994, dalam partai final di Stadion Rose Bowl di Pasadena, California, Roberto Baggio menatap bola di titik putih. Di hadapannya berdiri Claudio Taffarel, penjaga gawang Brasil,. yang sebelumnya berhasil menggagalkan eksekusi Daniele Massaro.
Kedua tim harus menjalani adu penalti setelah bermain 0-0 dalam waktu normal dan waktu ekstra. Baggio mendapat giliran terakhir untuk mengeksekusi bola. Dunga sudah mencetak gol yang menjadikan skor 3-2 untuk Brasil. Tidak ada ;pilihan bagi Baggio. Dia harus berhasil.
Jika bola masuk maka kedudukan menjadi 3-3, dan ini akan memberikan beban kepada Bebeto sebagai eksekutor terakhir Brasil. Baggio percaya penjaga gawang Italia Gianluca Pagliuca akan bisa menggagalkan eksekusi pemain Brasil bernomor punggung 7 itu.
Baggio mengambil ancang-ancang. Sepanjang kariernya yang cemerlang, dia sudah mencetak 108 gol penalti dari 122 kali percobaan. Dengan tingkat keberhasilan 88 persen, semua percaya dia akan berhasil.
Baggio menatap sisi kanan gawang Taffarel. Taffarel bergerak ke kiri. Namun bola melambung jauh di atas gawang.
“Baggio telah menghabiskan seluruh kariernya untuk memberi tahu kita bahwa puisi dalam sepak bola tidak ada dalam tendangan penalti, tetapi kegagalan di Pasadena itu memberi tahu kita banyak hal,” kata Vanni Santoni, penulis L’Ascensione di Roberto Baggio, sebuah novel pendek yang menggambarkan Baggio sebagai sosok suci yang sering berbicara dengan Tuhan.
Namun tragedi sesungguhnya dialami bek Kolombia Andres Escobar. Kekalahan 1-2 dari Amerika Serikat di Rose Bowl, mengakhiri hidupnya. Beberapa hari setelah mencetak gol bunuh diri dalam laga tersebut yang membuat Kolombia tersingkir, Escobar ditembak mati di kampung halamannya Medellin.
Sementara Diego Maradona yang sempat mencetak gol spektakuler yang diikuti selebrasi ikonik di depan kamera televisi, dalam kemenangan telak 4-0 atas Yunani di Grup D, harus mengakhiri karirnya dengan tragis.
Setelah kemenangan Argentina atas Nigeria, dunia dikejutkan kabar bahwa Maradona gagal dalam tes doping. Hasil sampel kedua mengonfirmasi temuan tersebut dan FIFA tidak memiliki pilihan selain menskorsnya.
Argentina sendiri finis di peringkat ketiga Grup D di bawah Nigeria dan Bulgaria dan lolos ke Babak 16 Besar sebagai sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Namun dalam pertandingan melawan Rumania di Rose Bowl, mereka kalah 2-3.
Di Grup B, Brasil tampil jauh lebih terorganisasi dibandingkan pada Italia 1990. Tim yang dipimpin Dunga dan Mauro Silva itu memiliki keseimbangan antara disiplin dan kualitas menyerang. Penyerang Romario menjadi sosok kunci dengan mencetak gol dalam setiap pertandingan grup dan membawa Brasil lolos sebagai juara grup.
Sementara itu juata bertahan Jerman Barat (yang sekarang bernama Jerman) mampu lolos dari grup A tanpa kekalahan. Setelah mengalahkan Bolivia 1-0 dalam pertandingan pembuka, mereka ditahan Spanyol 1-1. Korea Selatan memberikan perlawanan ketat yang membuat Jerman hanya menang 3-2.
Swedia menjadi kejutan terbesar Piala Dunia 1994. Mereka lolos dari Grup B tanpa terkalahkan. Sementara Penyerang Rusia Oleg Salenko akan dikenang karena mencetak lima gol dalam kemenangan 6-1 atas Kamerun. Ia mengakhiri turnamen dengan enam gol, namun Rusia tetap tersingkir, sehingga penghargaan Sepatu Emas menjadi satu-satunya hiburan baginya.
Grup E menghasilkan situasi yang sangat langka. Italia, Republik Irlandia, Meksiko, dan Norwegia mengumpulkan poin dan selisih gol yang sama. Republik Irlandia mencatat kemenangan berkesan atas Italia berkat gol Ray Houghton.
Meksiko akhirnya keluar sebagai juara grup, Irlandia menjadi runner-up, dan Italia lolos sebagai salah satu peringkat ketiga terbaik. Norwegia tersingkir meski memiliki catatan yang identik.
Grup F juga berlangsung ketat. Belanda, Arab Saudi, dan Belgia sama-sama meraih dua kemenangan. Belanda finis di posisi pertama berkat selisih gol dan kemenangan atas Arab Saudi.
Saeed Al-Owairan dikenang karena mereplika gol kedua Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia 1986 saar melawan Belgia. Dia menggiring bola dari wilayah sendiri, melewati sejumlah pemain Belgia, lalu mencetak gol yang memastikan kemenangan Arab Saudi sekaligus tiket ke babak berikutnya.
Babak 16 besar menjadi akhir perjalanan Arab Saudi dan Nigeria. Arab Saudi kalah dari Swedia, sedangkan Nigeria harus mengakui keunggulan Italia setelah Roberto Baggio mencetak dua gol pada babak tambahan waktu.
Amerika Serikat juga tersingkir setelah memberikan perlawanan sengit kepada Brasil. Pertandingan itu diwarnai retaknya tengkorak pemain AS Tab Ramos karena disikut Leonardo yang kemudian dijatuhi larangan bermain empat pertandingan.
Namun bagi Amerika Serikat, hal terpenting dari Piala Dunia adalah mengembalikan sepak bola dalam benak publik yang terbiasa dengan bisbol, bola basket, dan sepak bola Amerika.
Sepak bola di AS pernah perhatian besar dengan munculnya North American Soccer League (NASL) yang mendatangkan sejumlah bintang dunia seperti Pelé, Franz Beckenbauer, Johan Cruyff, Carlos Alberto, George Best, dan Bobby Moore.
Turnamen ini mencatat kesuksesan finansial terbesar saat itu dan mematahkan kekhawatiran terhadap rendahnya minat penonton. Rata-rata kehadiran mencapai sekitar 69 ribu penonton per pertandingan dengan total sekitar 3,6 juta penonton: tertinggi dalam sejarah Piala Dunia pada masa itu.
Di babak perempat final, Brasil mengalahkan Belanda 3-2 dan Italia mengalahkan Spanyol 2-1. Swedia menyingkirkan Rumania yang dipimpin Gheorghe Hagi melalui adu penalti setelah bermain imbang 2-2.
Bulgaria bikin kejutan dengan juara bertahan Jerman 2-1 melalui kaki Hristo Stoichkov dan kepala Yordan Letchkov. Padahal Bulgaria belum pernah memenangi satu pun pertandingan dalam lima penampilan sebelumnya di putaran final.
Perjalanan Bulgaria berakhir di semifinal ketika Roberto Baggio mencetak dua gol yang membawa Italia menang 2-1. Stoichkov memang memperkecil ketertinggalan melalui penalti dan kemudian berbagi gelar pencetak gol terbanyak dengan Oleg Salenko. Di semifinal lainnya, Brasil mengalahkan Swedia 1-0 berkat gol Romario.
Final antara Brasil dan Italia berlangsung ketat dan hati-hati. Brasil tampil lebih defensif dan mengandalkan kreativitas Romario dan Bebeto. Setelah 120 menit tanpa gol, untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia, juara ditentukan melalui adu penalti.
Dan berikutnya adalah sejarah. Ben Lyttleton, penulis buku Twelve Yards – The Art and Psychology of The Perfect Penalty Kick, menyebut foto Baggio, dengan tangan di pinggang, menatap ke bawah ke titik penalti saat Brasil merayakan kemenangan, adalah salah satu yang paling ikonik dalam sepak bola.
Oryza A. Wirawan,
Jurnalis Senior beritajatim.com, pegiat Bonek Writer Forum.






