Ringkasan Berita:
- Dinkes PPKB Kota Madiun memperluas pelacakan kasus tuberkulosis melalui program Si Batik Ulos.
- Sebanyak 100 warga kontak erat pasien TBC mengikuti skrining di Kelurahan Kanigoro.
- Warga yang terindikasi TBC langsung menjalani pemeriksaan lanjutan menggunakan tes Mantoux dan portable X-ray.
- Sepanjang 2026, sebanyak 800 warga di delapan kelurahan menjadi sasaran program deteksi dini TBC.
Madiun (beritajatim.com) – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun memperluas jangkauan pelacakan penderita tuberkulosis (TBC). Melalui program Si Batik Ulos (Skrining Bina Wilayah Terpadu Investigasi Kontak Tuberkulosis), petugas medis mulai menyisir wilayah-wilayah yang menjadi kantong kasus penularan.
Salah satu pelacakan massal digelar di Kantor Kelurahan Kanigoro, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Senin (22/6/2026). Sedikitnya 100 warga yang terdeteksi pernah berinteraksi dengan pasien TBC aktif dikumpulkan untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
Kabid PLK UKP UKM Dinkes PPKB Kota Madiun, Neva Chandra, menegaskan bahwa mata rantai penularan TBC hanya bisa diputus jika pelacakan dilakukan secara agresif. Berdasarkan pemetaan medis, satu pasien positif TBC idealnya diikuti dengan pelacakan terhadap sedikitnya 10 orang yang memiliki kontak erat.
“Intinya kegiatan ini untuk melakukan deteksi dini dengan melakukan skrining kepada kontak erat penderita TBC. Harapannya kita bisa mengetahui sejak awal apabila ada yang terduga TBC sehingga dapat segera dilakukan pemeriksaan lanjutan dan pengobatan,” kata Neva Chandra, Senin (22/6/2026).
Dalam pelaksanaannya, warga tidak hanya diwawancarai mengenai gejala klinis, tetapi juga difasilitasi Pemeriksaan Kesehatan Gratis (CKG) untuk memantau penyakit penyerta atau komorbid, seperti pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah.
Bagi warga yang menunjukkan indikasi atau gejala klinis TBC saat skrining, tim medis langsung mengarahkan mereka menjalani pemeriksaan lanjutan, seperti tes Mantoux dan foto rontgen dada (chest X-ray). Dinkes memanfaatkan fasilitas portable X-ray hasil kolaborasi dengan RS Paru Manguharjo dan RSUD Kota Madiun sehingga hasil pemeriksaan dapat diperoleh lebih cepat.
Jika hasil pemeriksaan rontgen maupun laboratorium menyatakan pasien positif TBC, pengobatan standar selama enam bulan akan langsung diberikan.
“Kalau hasilnya positif, akan dilakukan tatalaksana pengobatan TBC. Obat bisa diambil di puskesmas sesuai wilayah masing-masing,” tambah Neva.
Sepanjang tahun 2026, Dinkes Kota Madiun membidik sedikitnya 800 warga di delapan kelurahan yang memiliki angka kasus TBC relatif tinggi. Strategi jemput bola ini diterapkan karena masih banyak warga yang enggan memeriksakan diri secara mandiri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski jumlah temuan kasus TBC di Kota Madiun saat ini cenderung melandai pada kisaran 200 hingga 300 kasus, kewaspadaan terhadap potensi penularan di tingkat lingkungan tetap harus ditingkatkan.
Bagi warga yang merupakan kontak erat pasien TBC namun hasil pemeriksaannya negatif atau belum menunjukkan gejala, petugas akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah bakteri TBC laten di dalam tubuh berkembang menjadi penyakit TBC aktif. [rbr/beq]




