Ringkasan Berita:
- Iskandar, warga Lamongan, memanfaatkan rooftop rumah menjadi kebun melon hidroponik yang produktif.
- Dari lahan seluas 13 x 8 meter, ia mampu memanen sekitar 2,5 kuintal melon.
- Setelah gagal pada musim tanam pertama, ia beralih ke varietas melon lokal yang lebih adaptif terhadap cuaca.
- Iskandar berharap inovasi urban farming di lahan terbatas dapat menginspirasi generasi muda.
Lamongan (beritajatim.com) – Keterbatasan lahan tidak menyurutkan semangat Iskandar, warga Desa Deketkulon, Kecamatan Deket, Kabupaten Lamongan, untuk bertani. Alih-alih mencari lahan baru, ia justru memanfaatkan rooftop atau area terbuka di bagian atas rumahnya menjadi kebun melon hidroponik yang produktif.
Inovasi tersebut membuktikan bahwa lahan terbatas tetap dapat menghasilkan nilai ekonomi apabila dikelola dengan teknik budidaya yang tepat. Di atas lahan berukuran sekitar 13 x 8 meter, Iskandar berhasil mengembangkan tanaman melon menggunakan sistem hidroponik dan irigasi tetes.
Sebelum memanfaatkan rooftop, Iskandar sebenarnya telah lebih dulu mengembangkan budidaya melon di dalam greenhouse. Namun, ia melihat ruang kosong di bagian atas rumahnya memiliki potensi untuk dimanfaatkan.
“Kami kan sebenarnya sudah menanam di greenhouse. Nah, kebetulan kami punya rooftop yang kosong dan mohon maaf, belum bisa membangun ke atas untuk kelanjutan rumahnya. Jadi saya manfaatkan ruang ini untuk menanam melon,” ujar Iskandar, Senin (22/6/2026).
Dari kebun melon di atas rumah tersebut, Iskandar mampu memanen sekitar 2,5 kuintal buah melon dalam satu kali musim panen.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan pertanian di rooftop tidak selalu berjalan mulus. Pada musim tanam pertama, ia mencoba membudidayakan melon premium varietas Adinda produksi Tunas Agro. Namun, hasil panennya belum optimal akibat cuaca terbuka dan serangan hama.
Belajar dari pengalaman tersebut, pada musim tanam berikutnya Iskandar memilih beberapa varietas melon lokal yang dinilai lebih tahan terhadap kondisi lingkungan di area rooftop.
“Saya kemudian mencoba menanam beberapa jenis melon lokal. Ada jenis Gracia, New Cheria, hingga Nobel. Masa panen untuk melon lokal ini relatif singkat, berkisar antara 60 sampai 65 hari,” tuturnya.
Dengan evaluasi yang dilakukan sejak musim tanam pertama, Iskandar optimistis hasil panen pada musim berikutnya akan lebih baik. Namun, ia mengakui cuaca ekstrem, terutama hujan dengan intensitas tinggi, masih menjadi tantangan utama dalam budidaya melon di ruang terbuka.
“Kemarin itu kita bisa dapat 2,5 kuintal. Tapi kalau musim hujan, kondisi di rooftop ini memang kurang begitu bersahabat, terutama untuk melon-melon yang jenis premium. Tantangan utamanya ya memang cuma hujan saja,” ujarnya.
Ketertarikan Iskandar terhadap dunia pertanian bermula ketika mengikuti program ketahanan pangan desa. Dari program tersebut ia memperoleh pendampingan dasar, kemudian memperdalam teknik budidaya modern secara mandiri melalui berbagai platform digital.
Ia menerapkan sistem penyiraman menggunakan selang drip dengan metode fertigasi tetes yang dipelajari secara otodidak.
“Sistem penyiramannya kami pakai selang drip dan fertigasi tetes. Kalau teknologi dan cara implementasinya ini, saya belajar mandiri dari YouTube,” katanya.
Iskandar berharap inovasi memanfaatkan rooftop rumah sebagai lahan pertanian dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan urban farming di tengah keterbatasan lahan.
“Harapannya ini bisa menginspirasi yang lain, terutama kawula muda agar tetap bersemangat dan punya inovasi baru untuk memanfaatkan lahan seadanya untuk menanam,” pungkasnya. [fak/beq]






