Ringkasan Berita
- Wakil Rais Aam PBNU KH Afifuddin Muhajir menjelaskan kedudukan Syuriyah dan Tanfidziyah dalam struktur Nahdlatul Ulama.
- Rais Aam disebut harus memiliki kepakaran mendalam di bidang ilmu-ilmu syariat sekaligus memiliki sifat khasyyah kepada Allah SWT.
- Ketua Umum PBNU diposisikan sebagai pelaksana teknis organisasi yang menjalankan roda jam’iyah.
- Seluruh pemimpin NU diingatkan menjaga khittah organisasi sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah.
- KH Afifuddin Muhajir Jelaskan Posisi Syuriyah dan Tanfidziyah
Kediri (beritajatim.com) – Wakil Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Afifuddin Muhajir, menjelaskan kedudukan teologis sekaligus organisatoris antara jajaran Syuriyah yang dipimpin Rais Aam dan Tanfidziyah yang dipimpin Ketua Umum PBNU dalam forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026.
Pengarahan tersebut disampaikan di Aula Pondok Pesantren Al-Falah Desa Ploso, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, Minggu (21/6/2026), di hadapan peserta Munas dan Konbes NU.
Menurut Kiai Afifuddin, otoritas tertinggi dalam struktur organisasi Nahdlatul Ulama berada pada jajaran Syuriyah yang beranggotakan para ulama.
Rais Aam Harus Menguasai Ilmu-ilmu Syariat
Kiai Afifuddin menegaskan bahwa posisi Rais Aam maupun jajaran Rais Syuriyah tidak dapat diisi secara sembarangan.
Menurutnya, seorang Rais harus memiliki penguasaan mendalam terhadap berbagai disiplin ilmu keislaman.
“Yang menjadi rais-rais kemudian seharusnya orang-orang yang memiliki kepakaran di bidang ilmu tafsir, ilmu hadis, ilmu fikih, usul fikih, dan seterusnya,” tegasnya.
Selain kapasitas keilmuan, ia menekankan pentingnya dimensi spiritual berupa khasyyah, yakni rasa takut yang mendalam kepada Allah SWT.
Menurutnya, unsur tersebut menjadi syarat utama karena secara maknawi posisi Syuriyah merupakan penerus perjuangan spiritual pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari.
Syuriyah Disebut Penerus Spiritual KH Hasyim Asy’ari
Dalam paparannya, KH Afifuddin menyebut jajaran Syuriyah merupakan khalifah atau penerus spiritual dari KH Hasyim Asy’ari.
Karena itu, para pemimpin Syuriyah diharapkan mampu meneladani keilmuan, akhlak, dan keteladanan pendiri NU tersebut.
“Syuriah pada khususnya sesungguhnya adalah khalifahnya Asy’ari (Kiai Hasyim Asy’ari). Oleh karena itu jangan jauh-jauh dari Yasin (Kiai Hasyim), sekurang-kurangnya separuhnya, kalau tidak bisa separuhnya, seperempatnya sekalian,” ujarnya.
Ketua Umum PBNU Berperan Menjalankan Organisasi
Di sisi lain, KH Afifuddin juga menjelaskan kedudukan Ketua Umum PBNU dalam struktur organisasi.
Menurutnya, apabila Syuriyah berfungsi sebagai penjaga arah dan otoritas keagamaan organisasi, maka Ketua Umum Tanfidziyah bertugas menjalankan roda organisasi secara operasional.
“Dan siapapun yang menjadi ketua umum sesungguhnya adalah penggantinya yayasan itu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pembagian peran tersebut merupakan bagian dari sistem organisasi Nahdlatul Ulama yang telah dibangun sejak awal berdirinya.
Pemimpin NU Diminta Menjaga Khittah Organisasi
Menutup arahannya, KH Afifuddin mengingatkan bahwa siapa pun yang kelak terpilih sebagai Rais Aam maupun Ketua Umum PBNU memikul tanggung jawab besar menjaga arah perjuangan Nahdlatul Ulama.
Menurutnya, NU harus tetap konsisten sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah, yakni organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang berkhidmat kepada umat.
Ia juga mengingatkan agar organisasi tidak kembali terseret ke dalam praktik politik praktis sehingga tetap mampu menjalankan fungsi keagamaan, sosial, dan kebangsaan sebagaimana amanat para pendirinya. [nm]






