Ringkasan Berita:
- Bank Indonesia menyebut ekonomi syariah mengalami pertumbuhan signifikan di era digital dan terbukti tangguh saat krisis global 2008.
- Indonesia memiliki potensi besar menjadi pemain utama ekonomi syariah dunia dengan populasi muslim sekitar 234 juta jiwa.
- Pernyataan tersebut disampaikan dalam Opening Ceremony Festival Muharram 1448 H Road to Fesyar SAMARA 2026 di Bondowoso.
- Bank Indonesia terus memperkuat ekosistem ekonomi syariah melalui peningkatan literasi, pengembangan UMKM, wisata halal, dan FESYAR Jawa 2026.
Bondowoso (beritajatim.com) – Perkembangan ekonomi syariah di era digital terus menunjukkan tren positif dan semakin menjadi salah satu pilar penting dalam pertumbuhan ekonomi global. Bank Indonesia menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pemain utama dalam industri ekonomi dan keuangan syariah dunia.
Hal tersebut disampaikan Advisor Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur, Doni Fajar Anugerah, saat membuka Festival Muharram 1448 H Road to Fesyar SAMARA (Semarak Ekonomi Syariah Sekarkijang) 2026 di Alun-Alun RBA Ki Ronggo, Bondowoso, Jumat (19/6/2026) malam.
Menurut Doni, ketahanan sektor ekonomi dan keuangan syariah telah terbukti ketika menghadapi krisis keuangan global pada 2008. Di tengah tekanan ekonomi dunia saat itu, sektor syariah justru mampu bertahan dan terus berkembang.
“Kalau kita melihat perkembangan ekonomi syariah di era digital, maka ada pertumbuhan yang signifikan. Ketika krisis global 2008, ekonomi dan keuangan syariah mampu bertahan,” ujarnya.
Ia menjelaskan besarnya potensi ekonomi syariah dunia tercermin dari nilai pengeluaran masyarakat muslim global yang mencakup tujuh sektor utama. Pada 2022, nilainya mencapai USD 2,2 triliun dan diproyeksikan meningkat menjadi USD 3,2 triliun pada 2027.
Doni menambahkan Indonesia memiliki modal yang sangat kuat untuk mengambil peran strategis dalam ekonomi syariah global. Dengan jumlah penduduk muslim sekitar 234 juta jiwa atau sekitar 27 persen dari total populasi muslim dunia, Indonesia memiliki pangsa pasar yang sangat besar.
Saat ini Indonesia menempati peringkat ketiga dunia dalam pengembangan ekonomi syariah, berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
Untuk memperkuat posisi tersebut, Bank Indonesia terus menjalankan berbagai program pengembangan ekonomi syariah. Langkah yang dilakukan meliputi perluasan ekosistem ekonomi syariah, peningkatan literasi dan partisipasi masyarakat, pengembangan wisata halal, hingga penguatan berbagai instrumen ekonomi dan keuangan syariah.
“Bank Indonesia terus berupaya meningkatkan ekonomi syariah agar semakin luas dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” kata Doni.
Ia menambahkan penyelenggaraan Festival Muharram 1448 H Road to Fesyar SAMARA merupakan hasil sinergi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam memperkuat ekosistem ekonomi syariah di daerah.
Kegiatan yang berlangsung pada 19–25 Juni 2026 tersebut menjadi kali kedua kolaborasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Kabupaten Bondowoso dalam menyelenggarakan agenda penguatan ekonomi syariah.
Sementara itu, Bupati Bondowoso Abdul Hamid Wahid menyampaikan apresiasi kepada Bank Indonesia dan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Festival Muharram 1448 H Road to Fesyar SAMARA.
“Kolaborasi Festival Muharram dengan Road to Fesyar SAMARA menjadi langkah strategis untuk memperkuat ekosistem ekonomi syariah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif di Bondowoso,” tuturnya.
Doni juga mengungkapkan setelah rangkaian Road to Fesyar SAMARA selesai, Bank Indonesia akan menggelar Festival Ekonomi Syariah (FESYAR) Jawa pada September 2026 sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah di kawasan regional.
Festival Muharram 1448 H Road to Fesyar SAMARA di Bondowoso diharapkan menjadi momentum untuk memperluas pemahaman masyarakat terhadap ekonomi syariah.
“Sekaligus memperkuat peran UMKM, pesantren, dan pelaku usaha lokal dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” pungkasnya. [awi/beq]






