Magetan (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magetan memastikan informasi yang beredar di media sosial mengenai Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar merupakan kabar bohong atau hoaks.
Masyarakat diminta tidak mudah percaya dan tidak ikut menyebarluaskan informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Magetan, Eka Radityo, menegaskan bahwa hingga saat ini tidak ada informasi resmi dari instansi berwenang yang menyatakan Gunung Lawu berada dalam kondisi mengkhawatirkan atau menunjukkan tanda-tanda akan meletus.
Menurutnya, narasi yang menyebut adanya kenaikan lava, pengisian kantong magma, hingga tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro yang diklaim dapat memicu erupsi besar Gunung Lawu tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. “Informasi terkait Gunung Lawu bakal erupsi merupakan hoaks,” tegas Eka Radityo, Jumat (19/6/2026).
Penegasan berdasar keterangan resmi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyatakan informasi mengenai potensi erupsi besar Gunung Lawu yang ramai beredar di media sosial adalah tidak benar.
Dalam penjelasannya, Badan Geologi menyebut Gunung Lawu yang berada di perbatasan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur, memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut. Gunung ini masuk kategori gunung api tipe B, yakni gunung api yang tidak memiliki catatan erupsi magmatik setelah tahun 1600.
Meski demikian, aktivitas vulkanik masih terpantau dalam bentuk keluarnya gas solfatara di kawasan Kawah Candradimuka. Hingga kini juga tidak terdapat catatan sejarah yang menunjukkan pernah terjadi erupsi Gunung Lawu.
Hasil pemantauan dan penyelidikan geokimia yang dilakukan pada 2021 dan 2023 menunjukkan komposisi gas di Kawah Candradimuka terdiri atas H2O, CO2, H2S, SO2, NH3, N2, dan H2 yang masih tergolong normal untuk gunung api aktif. Suhu kawah yang berkisar antara 90,8 hingga 92 derajat Celsius juga tidak menunjukkan adanya indikasi kenaikan lava menuju permukaan.
Lebih lanjut, analisis kimia gas dan air panas di sekitar Gunung Lawu memang menunjukkan sistem magmatis masih aktif. Namun, para peneliti tidak menemukan perubahan signifikan pada komposisi gas maupun air panas yang dapat mengindikasikan peningkatan aktivitas vulkanik.
Selain itu, tidak ditemukan bukti yang mendukung klaim mengenai adanya kenaikan fluida magmatik ke permukaan maupun dugaan pengisian kantong magma sebagaimana yang disebutkan dalam narasi yang beredar di media sosial.
Klarifikasi ini menjadi penting mengingat Gunung Lawu merupakan salah satu destinasi wisata alam dan pendakian favorit di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Setiap tahun, ribuan pendaki dan wisatawan berkunjung melalui jalur Cemoro Sewu, Cemoro Kandang, maupun Candi Cetho.
Beredarnya informasi yang tidak akurat berpotensi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kawasan lereng gunung, pelaku usaha wisata, hingga para pendaki yang telah merencanakan perjalanan ke Lawu.
Karena itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk selalu memverifikasi informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Badan Geologi meminta masyarakat tetap tenang dan hanya mengakses informasi kebencanaan dari kanal resmi pemerintah. Informasi terkini mengenai aktivitas gunung api dapat dipantau melalui platform Magma Indonesia maupun media sosial resmi Badan Geologi.
Sementara itu, BPBD Magetan memastikan terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau perkembangan aktivitas Gunung Lawu. Hingga saat ini tidak ada perubahan status maupun rekomendasi khusus terkait aktivitas vulkanik gunung yang menjadi ikon kawasan perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.
Masyarakat pun diharapkan tetap waspada, namun tidak terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. [fiq/suf]






