Ringkasan Berita:
- KH Thoriq Bin Ziyad mengajak warga Nahdlatul Ulama menjaga persatuan menjelang Muktamar NU.
- Menurutnya, perbedaan di tubuh NU harus menjadi kekuatan untuk membangun kebangkitan ulama.
- Gus Thoriq berharap pesantren tetap menjadi pusat pembangunan moral dan etika umat.
- Ia juga menyampaikan dukungan kepada KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin memimpin PBNU.
Malang (beritajatim.com) – Menjelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini, Penggagas Hari Santri Nasional KH Thoriq Bin Ziyad menyampaikan pesan agar seluruh warga Nahdliyin tetap menjaga persatuan di tengah berbagai dinamika organisasi. Sebelumnya, Gus Thoriq, sapaan akrabnya, sempat memberikan tongkat komando yang terbuat dari pohon zaitun kepada Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin yang dinilai berhasil menjadi juru islah di tengah perseteruan PBNU.
Menurut Gus Thoriq, hal yang perlu ditindaklanjuti adalah amanah para ulama terdahulu agar mampu menjadi pribadi yang mendamaikan dan mempersatukan umat.
“Kalaupun ada perbedaan di dalam masyarakat, masyarakat apapun itu, kita harus mampu menjadi insan yang mendamaikan, mempersatukan. Bukan mempersalahkan perbedaan dan menjadikan perpecahan. Jadi kami ingin NU ke depan itu, ya NU. NU itu Nahdlatul Ulama, Nahdlatul itu bermakna satu, tapi disandarkan kepada jama’ taksir. Artinya dengan banyaknya perbedaan di tubuh NU, kalau dilihat dari ras-rasnya di para anggota dan Nahdliyin itu, ini tidak memperlebar perbedaan,” ungkap Gus Thoriq, Senin (15/6/2026).
Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Babussaalam, Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang itu, yang perlu digarisbawahi bukanlah banyaknya perbedaan, melainkan bagaimana seluruh perbedaan tersebut disatukan menjadi satu gerakan kebangkitan ulama.
“Artinya kebangkitan ulama ini kebangkitan yang ilmiah sifatnya. Maka perlu kiranya insan-insan pesantren menjadi poros utama dari NU ini agar menjadi insan-insan yang cermat, cerdik, sekaligus waspada,” tegasnya.
Gus Thoriq juga menilai pondok pesantren harus mampu menghadapi berbagai dinamika, termasuk potensi munculnya politik framing, dengan tetap berpegang pada nilai-nilai yang diwariskan para pendiri pesantren.
“Artinya kembali lagi kepada sejarah orang tua-orang tua kita, kakek moyang kita. Pesantren itu didirikan untuk membangun moral dan etika. Sehingga ini akan menjadi warisan yang mampu diturunkan kembali secara berkesinambungan demi keutuhan umat,” ujarnya.
Ia berharap Nahdlatul Ulama tetap menjadi organisasi yang mampu menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan dan dinamika yang terjadi.
“Kami ingin di NU itu tidak ada perpecahan, karena kemarin juga ada konflik di tubuh PBNU dan kami memberikan titipan amanah tentang Islah itu. Alhamdulillah Islah ada sosok yang datang ke rumah kami. Ketua PWNU Jatim. Dan mudah-mudahan beliau ini diberi amanah oleh anggota Nahdliyin untuk menduduki posisi tertinggi. Bagaimanapun sosok ketua yang memimpin organisasi terbesar, bahkan dikatakan 100 juta lebih warganya ini sosok yang moderat. Beliau (Gus Kikin-red), kami lihat tidak terlalu reaktif dan lain sebagainya. Bahkan lebih mementingkan musyawarah dan gotong royong. Ini kan model ke-Indonesia-an banget, sebab NU itu ada ya karena semangat gotong royong seperti itu,” tutur Gus Thoriq.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Thoriq juga menyatakan dukungannya kepada Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin agar dapat memimpin PBNU pada periode mendatang.
“Kami memandang Gus Kikin mampu menjadi partner, mampu menjadi sahabat terbaik dalam menentukan arah bangsa dan negara ini ke depan. Salah satunya adalah bagaimana penegakan kembali empat pilar kebangsaan, yang kami singkat PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan Undang-Undang). Mudah-mudahan nanti NU ke depan mampu memberikan ide terbaiknya kepada negara ini bagaimana arah ke depan. Sebab pergaulan internasional sekarang luar biasa, dinamikanya harus juga dipahami NU. Sehingga NU mampu dan bisa berkiprah secara internasional,” harapnya. [yog/beq]






