Piala Dunia 1974 di Jerman Barat menghadirkan trofi baru yang dipahat seniman Italia, Silvio Gazzaniga untuk menggantikan trofi Jules Rimet yang berbentuk Dewi Nike, Dewi Kemenangan dalam mitologi Yunani, yang sudah dimiliki permanen oleh Brasil.
Trofi baru itu diberi nama FIFA World Cup yang dibuat dari lima kilogram emas 18 karat, setinggi 36,5 sentimeter, dan menggambarkan dua sosok manusia yang mengangkat bola bumi. FIFA juga menetapkan tidak ada negara yang akan memiliki trofi tersebut secara permanen, berapa pun jumlah gelar yang diraih.
Selain trofi baru, Belanda menyita perhatian sepanjang turnamen. Barat. Di bawah pelatih Rinus Michels, mereka memperkenalkan konsep Total Football.
Ini sistem dan filosofi sepak bola yang menekankan kebebasan bergerak dan pertukaran posisi antarpemain dengan dikomandani Johan Cruyff, pemain Ajax yang telah meraih berbagai gelar domestik, tiga Piala Eropa beruntun, serta dua Ballon d’Or.
Belanda menjadi juara Grup 3 dengan menghancurkan Uruguay 2-0 dan Bulgaria 4-1. Hanya Swedia yang berhasil memaksakan hasil imbang 0-0.
Sementara itu di Grup 1, Jerman Timur membuat kejutan dengan mengalahkan Jerman Barat 1-0 di Hamburg dan menjadi juara grup. Gol yang dicetak Jurgen Sparwasser membuat 3.000 pendukung Jerman Timur diizinkan melintasi perbatasan untuk menyaksikan pertandingan tersebut bersorak-sorai.
Tak hanya mengalahkan Jerman Barat, Jerman Timur juga membekuk Australia 2-0 dan tak terkalahkan setelah bermain imbang 1-1 dengan Chile. Jerman Barat lolos ke babak selanjutnya dengan status runner-up grup setelah mengalahkan Chile 1-0 dan Australia 3-0.
Di Grup 2, wakil satu-satunya Britania Raya, Skotrlandia, tersingkir karena kalah selisih gol. Mereka sebenarnya tampil baik dengan mengalahkan Zaire 2-0, menahan imbang juara bertahan Brasil 0-0, dan menahan seri Yigoslavia 1-1.
Skotlandia, Brasil, dan Yugoslavia sama-sama mengantongi enam poin. Namun kemenangan besar sembilan gol tanpa balas atas Zaire meluncurkan Yugoslavia ke pucuk klasemen. Sementara itu Brasil yang menaklukkan Zaire 3-0 berada di posisi runner-up dengan selisih gol baik dibandingkan Skotlandia. Skotlandia pun menjadi tim pertama dalam sejarah putaran final Piala Dunia yang tersingkir tanpa pernah kalah.
Kejutan terbesar terjadi di Grup 4. Italia, runner-up Piala Dunia 1970, tersingkir karena kalah selisih satu gol dari Argentina. Negara Amerika Selatan itu mendampingi Polandia ke fase grup kedua.
Polandia boleh dibilang kekuatan baru dalam Piala Dunia kali ini. Mereka lolos ke Jerman Barat setelah menggagalkan Inggris dalam kualifikasi Eropa Grup 5. Dalam pertandingan terakhir di Stadion Wembley, kiper Polandia Jan Tomaszewski menggagalkan banyak peluang tuan rumah Inggris dan menjaga skor tetap 1-1 peluit akhir dibunyikan.
Polandia mengandalkan duet ujung tombak tajam: Grzegorz Lato dan Andrzej Szarmach selama Piala Dunia. Berkat kinerja mereka berdua, Polandia mengalahkan Argentina 3-2, Haiti 7-0, dan Italia 2-1 di Grup 4.
Memasuki fase kedua penyisihan, Belanda yang tergabung dengan Grup A berhasil menggulung Argentina 4-0. Cruyff mencetak dua gol dalam pertandingan tersebut. Pesaing utama mereka adalah Brasil yang meski tidak lagi diperkuat banyak pemain hebat dari tim juara 1970, tetap mampu mengalahkan Jerman Timur dan Argentina.
Dalam pertandingan penentuan tiket menuju final, kreativitas dan pergerakan para pemain Belanda menyulitkan Brasil untuk mencetak gol. Ketika frustrasi meningkat, permainan Brasil menjadi semakin keras. Luis Pereira akhirnya diusir keluar lapangan. Gol Johan Neeskens dan Johan Cruyff memastikan kemenangan Belanda sekaligus tempat di final.
Sementara itu di Grup B, Jerman Barat dan Polandia bersaing memperebutkan tiket final setelah sama-sama mengalahkan Yugoslavia dan Swedia. Franz Beckenbauer dan kawan-kawan hanya membutuhkan hasil imbang untuk melaju ke final karena unggul selisih gol. Namun di lapangan yang basah di Frankfurt, Jerman Barat justru menang 1-0 melalui gol yang dicetak Gerd Muller pada menit 76.
Polandia menutup turnamen dengan menempati posisi ketiga setelah mengalahkan Brasil 1-0 melalui gol Grzegorz Lato. Ini gol ketujuh Lato yang menempatkannya dalam sejarah sebagai pencetak gol terbanyak turnamen ini.
Pemain terbaik dianugerahkan kepada Johan Cruyff yang gagal membawa Belanda mengalahkan Jerman Barat dalam pertandingan final di Munich.
Pertandingan final merupakan salah satu yang terbaik dan dramatis sepanjang sejarah Piala Dunia. Wasit Jack Taylor menghadiahkan penalti untuk Belanda setelah Johan Cruyff dilanggar Berti Vogts pada menit pertama.
Johan Neeskens sukses mengeksekusinya dan membawa Belanda unggul 1-0.
Menit ke-25, giliran Jerman Barat mendapatkan hadiah penalti setelah Bernd Holzenbein dijatuhkan Wim Jansen di kotak penalti. Paul Breitner mengoversi peluang itu menjadi gol.
Menjelang turun minum, Gerd Muller menunjukkan ketajamannya. Setelah menerima umpan silang Rainer Bonhof, ia berputar dan melepaskan tembakan yang mengejutkan pertahanan Belanda. Gol itu membawa Jerman Barat berbalik unggul 2-1.
Belanda menunjukkan bagaimana Total Football seharusnya dimainkan pada babak kedua. Namun pertahanan Jerman Barat terlalu kokoh. Ketika peluit panjang berbunyi, Jerman Barat memastikan gelar juara dunia kedua mereka. Namun Belanda lebih dikenang karena berhasil memukau dunia dengan inovasi taktik dan permainan menyerang Total Football.
Bagi Jerman Barat sendiri, keberhasilan ini mengobati reputasi mereka yang tercoreng dua tahun sebelumnya dengan peristiwa penyanderaan yang menewaskan atlet Israel saat menjadi tuan rumah Olimpiade 1972.
Oryza A. Wirawan,
Jurnalis Senior beritajatim.com, Pemerhati Sepakbola, pegiat Bonek Writer Forum.






