Surabaya (beritajatim.com) – Lima mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) menciptakan aplikasi mobile bernama NyxAId. Perangkat lunak ini membantu penyandang disabilitas netra melakukan pertolongan pertama saat mengalami cedera medis darurat tanpa kehadiran pendamping.
Inovasi bernama lengkap Sistem Assistive First Aid itu terhubung dengan kacamata pintar berteknologi kecerdasan buatan. Kelima mahasiswa pencetus karya ini pun sukses meraih pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2026.
Ketua tim pengembang, Gressendy Zahwarani, menjelaskan teknologi kacamata pintar tidak hanya dipakai untuk alat bantu jalan. Alat ini dirombak menjadi pemindai fisik dan letak luka.
“Kami ingin memosisikan teknologi kacamata pintar yang awalnya hanya berfungsi sebagai alat bantu mobilitas atau navigasi jalan, bergeser menjadi detektor medis yang mampu memindai luka secara visual,” ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Gressendy menjelaskan awal mula pembuatan platform ini berangkat dari temuan di ruang publik. Selama ini alat pendukung tunanetra hanya berupa tongkat pintar, belum menyentuh ranah penanganan cedera fisik.
“Oleh karena itu, kami menghadirkan ekosistem digital ini untuk mendeteksi letak luka sekaligus memandu tindakan medis apa yang harus mereka lakukan,” jelas Gressendy.
Sistem ini beroperasi memakai kecerdasan buatan berbasis Large Language Model-Retrieval Augmented Generation (LLM-RAG). Teknologi tersebut memungkinkan komunikasi interaktif dua arah via audio untuk memandu penanganan beragam jenis luka.
“Melalui sistem AI-RAG yang terverifikasi medis, pengguna tunanetra maupun pendamping dapat memperoleh panduan pertolongan pertama yang cepat dan akurat. Hal itu bisa didapatkan melalui fitur pemindai luka, buku panduan suara, hingga percakapan interaktif,” tuturnya.
Aplikasi medis ini memiliki fitur panggilan darurat otomatis. Perangkat akan langsung menghubungi keluarga atau fasilitas kesehatan (faskes) terdekat apabila pemakai berada dalam keadaan kritis dan butuh perawatan dokter secepatnya.
“Jika pengguna berada di kondisi kritis yang tidak memungkinkan penanganan mandiri, sistem akan otomatis menghubungkan ke fitur emergency call menuju keluarga atau faskes terdekat,” papar mahasiswa fakultas vokasi tersebut.
Gressendy menambahkan bahwa pengembangan produk digital ini terus berjalan. Proteksi keamanan bagi penyandang tunanetra diharapkan makin merata seiring perbaikan berbagai fitur pada aplikasi di masa depan.
“Kami berharap NyxAId dapat terus dikembangkan agar mampu memberikan dampak proteksi yang lebih luas bagi kemanusiaan,” pungkasnya. [ipl/kun]






