Ringkasan Berita:
- BPBD Kota Madiun meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 meski wilayahnya relatif aman dari kekeringan ekstrem.
- Lebih dari 10 tandon air portabel dan armada tangki disiagakan untuk mengantisipasi penurunan debit air bersih.
- Program Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) diperluas dengan penambahan dua kelurahan baru.
- Kelurahan Kelun dan Tawangrejo menjadi wilayah yang pernah mengalami penurunan ketersediaan air saat musim kemarau.
Madiun (beritajatim.com) – Meski selama ini relatif aman dari ancaman kekeringan ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Madiun meningkatkan kewaspadaan menghadapi musim kemarau 2026. Sejumlah langkah mitigasi telah disiapkan untuk memastikan kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila terjadi penurunan debit air.
Pelaksana Tugas (Plt) Kalaksa BPBD Kota Madiun, M. Yusuf Asmadi, mengatakan berdasarkan evaluasi pada musim kemarau sebelumnya, beberapa wilayah sempat mengalami penurunan ketersediaan air bersih, terutama di Kelurahan Kelun dan Kelurahan Tawangrejo, Kecamatan Kartoharjo.
“Kalau kekeringan ekstrem, insyaallah Kota Madiun relatif aman dan selama ini belum pernah terjadi. Namun kami tetap melakukan antisipasi agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi apabila terjadi penurunan debit air,” ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Sebagai langkah antisipasi, BPBD telah menyiagakan lebih dari 10 tandon air portabel beserta armada mobil tangki yang siap didistribusikan ke wilayah yang membutuhkan. Penyiapan sarana tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Selain memperkuat kesiapan distribusi air bersih, BPBD juga terus mengembangkan program Kelurahan Tangguh Bencana (Destana). Pada 2026, dua kelurahan baru ditargetkan bergabung sehingga jumlah Destana di Kota Madiun meningkat dari 11 menjadi 13 kelurahan.
“Tahun ini kita bentuk dua Kelurahan Tangguh Bencana lagi. Target jangka panjangnya seluruh 27 kelurahan di Kota Madiun memiliki status Destana,” kata Yusuf.
Menurutnya, karakteristik potensi bencana di Kota Madiun mengikuti pola pergantian musim. Saat musim hujan, beberapa wilayah di Kecamatan Kartoharjo, seperti Kelurahan Pilangbango, Tawang, dan Kelun, berpotensi mengalami genangan air. Sementara pada musim kemarau, perhatian difokuskan pada potensi kebakaran permukiman maupun lahan serta penurunan ketersediaan air bersih.
Yusuf menilai berkurangnya debit air tanah di sejumlah wilayah kemungkinan dipengaruhi tingginya pemanfaatan air bawah tanah untuk kebutuhan pertanian. Namun, kondisi tersebut diperkirakan dapat berangsur membaik karena jaringan layanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) kini telah menjangkau kawasan yang sebelumnya menjadi perhatian.
“Instalasi PDAM sebenarnya sudah masuk ke wilayah tersebut. Semoga semakin banyak warga yang beralih menggunakan layanan PDAM sehingga dampak penurunan air tanah bisa berkurang,” pungkasnya. [rbr/beq]






