Ringkasan Berita:
- Pondok Modern Darussalam Gontor menggelar wayang kulit dalam rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor.
- Lakon Parikesit Dadi Ratu dipilih karena mengandung nilai kepemimpinan, tanggung jawab, dan keteladanan.
- Pimpinan Gontor menilai wayang kulit menjadi media pendidikan karakter dan pembelajaran kehidupan bagi santri.
- Lebih dari 4.000 santri, guru, alumni, dan masyarakat mengikuti pertunjukan hingga dini hari.
Ponorogo (beritajatim.com) – Di tengah arus modernisasi pendidikan pesantren, Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) memilih tetap merawat warisan budaya Nusantara. Salah satunya melalui pagelaran wayang kulit yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 100 Tahun Gontor.
Bertempat di Lapangan Hijau PMDG, Desa Gontor, Kecamatan Mlarak, Kabupaten Ponorogo, pagelaran wayang kulit digelar pada Sabtu (6/6/2026) malam hingga Minggu (7/6/2026) dini hari.
Pagelaran wayang tersebut menghadirkan dalang kondang Ki Bayu Aji dari Surakarta, Jawa Tengah. Dalam perayaan satu abad Gontor itu, lakon yang dipilih adalah Parikesit Dadi Ratu.
Lakon tersebut mengusung tema Mensyukuri Masa Lalu dengan Nilai-Nilai Abadi dan Membekali Masa yang Akan Datang dengan Berbagai Tantangan. Pemilihan cerita itu bukan tanpa alasan. Kisah Parikesit dipandang sarat pesan tentang kepemimpinan, tanggung jawab, dan keteladanan yang dibutuhkan generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman.
Bagi Gontor, wayang kulit tidak ditempatkan sekadar sebagai tontonan hiburan rakyat. Seni tradisional ini justru dipandang sebagai media pendidikan karakter yang mampu mengajarkan kebijaksanaan, kepemimpinan, hingga cara berinteraksi dengan berbagai latar belakang manusia.
Pimpinan PMDG KH Hasan Abdullah Sahal menegaskan bahwa tradisi wayang telah lama hadir dalam berbagai momentum penting pondok. Menurutnya, kisah-kisah pewayangan menyimpan banyak pelajaran yang relevan untuk membentuk kepribadian santri.
“Wayang kulit menjadi sarana mendidik santri, agar mampu bergaul dengan siapa saja meski berbeda bahasa dan latar belakang,” ungkap KH Hasan Abdullah Sahal, Senin (8/6/2026).
Pimpinan PMDG lainnya, KH Akrim Mariyat, menjelaskan bahwa hubungan antara pondok modern dan wayang sesungguhnya terletak pada nilai pendidikan yang sama-sama dikandung keduanya. Baik pesantren maupun wayang, menurutnya, mengajarkan manusia memahami kehidupan secara utuh.
“Adanya wayang kulit ini, juga menyampaikan bahwa pondok modern dan wayang sama-sama mengajarkan pendidikan kehidupan,” terang KH Akrim Mariyat.
Ia kemudian menguraikan filosofi yang menurutnya menjadi inti dari pertunjukan wayang. Dalam pandangannya, kekuatan utama wayang tidak terletak pada sosok dalang maupun perangkat musik yang digunakan.
“bukan juga gongnya karena bisa diganti menggunakan mulut. Melainkan yang paling berperan adalah blencong atau syi’ar yang terkandung didalamnya,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana Gontor memaknai wayang sebagai media penyampai pesan. Nilai, ajaran, dan syiar yang terkandung di dalam cerita menjadi bagian terpenting yang ingin diwariskan kepada para santri.
Lebih dari 4.000 santri, guru, alumni, dan masyarakat bertahan menyaksikan pertunjukan hingga menjelang fajar. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa wayang masih memiliki ruang penting sebagai sarana pembelajaran nilai kehidupan di lingkungan pesantren. [end/beq]






