Ringkasan Berita:
- BPBD Kabupaten Madiun meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2026.
- Desa Sirapan dan Desa Bodag menjadi wilayah prioritas karena selama ini termasuk daerah rawan kekeringan.
- BPBD menyiapkan delapan unit tandon air berkapasitas 2.000 liter untuk mengantisipasi krisis air bersih.
- Masyarakat diimbau mulai menghemat penggunaan air guna mengurangi risiko dampak kemarau panjang.
Madiun (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung hingga Oktober mendatang. Sejumlah wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan, seperti Desa Sirapan dan Desa Bodag, masuk dalam pemetaan prioritas penanganan untuk mengantisipasi dampak berkurangnya ketersediaan air bersih.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Madiun, Boby Saktia Putra Lubis, mengatakan pihaknya telah menginstruksikan seluruh jajaran agar meningkatkan kewaspadaan sejak dini. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi menghadapi potensi kemarau panjang yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino.
“Kami sudah melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi. Desa-desa yang selama ini berpotensi mengalami kesulitan air bersih akan menjadi fokus sosialisasi dan pemantauan,” ujar Boby, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, BPBD akan menggencarkan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan dan penghematan penggunaan air selama musim kemarau. Upaya tersebut dinilai penting untuk mengurangi risiko krisis air bersih ketika debit sumber air mulai mengalami penurunan.
Berdasarkan evaluasi pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, sejumlah wilayah di Kabupaten Madiun mengalami kesulitan pasokan air tidak hanya karena berkurangnya sumber mata air, tetapi juga akibat tingginya tingkat konsumsi masyarakat saat musim kemarau berlangsung.
“Kami mengimbau warga mulai membiasakan penggunaan air secara bijak. Kebutuhan yang tidak mendesak bisa dikurangi agar cadangan air tetap tersedia untuk kebutuhan utama rumah tangga,” katanya.
Selain melakukan sosialisasi, BPBD Kabupaten Madiun juga akan mengirimkan surat edaran kepada seluruh kecamatan agar aktif memantau kondisi wilayah masing-masing. Apabila ditemukan indikasi kekeringan, pemerintah kecamatan diminta segera melaporkan kondisi tersebut sehingga langkah penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Sebagai bagian dari upaya antisipasi, BPBD telah menyiapkan delapan unit tandon air berkapasitas 2.000 liter yang siap didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan.
Penyediaan air bersih nantinya akan dilakukan melalui kerja sama dengan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Ketika ada wilayah yang mengalami kekurangan air bersih, tandon akan segera kami tempatkan dan pengisian air dilakukan bersama PDAM. Dengan cara itu kebutuhan dasar masyarakat tetap bisa terpenuhi,” jelas Boby.
Ia menambahkan, meskipun sebagian bantuan tandon dari BPBD Provinsi Jawa Timur telah dihibahkan kepada desa-desa rawan kekeringan, persediaan yang dimiliki BPBD Kabupaten Madiun saat ini masih dinilai cukup untuk mendukung penanganan darurat apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari perkiraan.
BPBD Kabupaten Madiun berharap kesiapsiagaan pemerintah daerah yang dibarengi dengan kesadaran masyarakat dalam menghemat penggunaan air dapat meminimalkan dampak kekeringan selama musim kemarau tahun ini. Dengan langkah mitigasi yang dilakukan sejak dini, risiko krisis air bersih di wilayah rawan diharapkan dapat ditekan sehingga aktivitas masyarakat tetap berjalan normal. [rbr/beq]






