Probolinggo (beritajatim.com) – Kabar seorang perawat RS Waluyojati Kraksaan yang disebut menjadi korban pembegalan di wilayah Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, akhirnya terungkap sebagai cerita bohong.
Setelah melakukan penyelidikan, polisi memastikan peristiwa pembegalan yang sempat viral di media sosial itu tidak pernah terjadi.
Pria berinisial NPW, yang diketahui bekerja sebagai perawat di RS Waluyojati Kraksaan, mengakui telah merekayasa cerita menjadi korban begal untuk menutupi penjualan sepeda motor milik ayahnya. Pengakuan tersebut sekaligus membantah informasi yang sebelumnya beredar luas dan sempat memicu keresahan masyarakat.
Sebelumnya, kabar pembegalan itu menyebar cepat di berbagai platform media sosial. Dalam narasi yang beredar, NPW dikabarkan menjadi korban kejahatan jalanan saat melintas di wilayah Kraksaan hingga kehilangan sepeda motor yang dikendarainya. Informasi tersebut memicu kekhawatiran warga terkait kondisi keamanan dan maraknya aksi kriminalitas di Kabupaten Probolinggo.
Namun hasil penyelidikan aparat kepolisian menunjukkan fakta yang berbeda. Polisi tidak menemukan adanya tindak pidana pembegalan sebagaimana yang dilaporkan. Tidak ada pelaku, tidak ada aksi perampasan kendaraan, dan tidak ada peristiwa kriminal yang terjadi di lokasi yang disebutkan.
Dalam pemeriksaan, NPW mengakui bahwa sepeda motor Honda Beat tahun 2014 milik ayahnya telah dijual kepada seseorang di wilayah Kraksaan dengan harga Rp1,5 juta. Hasil penjualan kendaraan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.
“Saya membuat cerita palsu bahwa saya telah dibegal. Saya melakukan hal tersebut karena kebutuhan ekonomi keluarga,” ujar NPW kepada penyidik.
Untuk memperkuat skenario yang dibuatnya, NPW diduga sengaja menyusun rangkaian kejadian agar terlihat seperti korban tindak kejahatan. Setelah menjual sepeda motor, ia membeli silet dan menuju kawasan timur Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kraksaan.
Di lokasi tersebut, NPW melukai dirinya sendiri pada bagian tangan dan kepala guna menciptakan kesan telah menjadi korban kekerasan saat pembegalan.
“Saya melukai tangan dan kepala saya sendiri menggunakan silet, kemudian meminta bantuan seseorang yang tidak saya kenal untuk diantar berobat ke RS Waluyojati Kraksaan,” ungkapnya.
Pengakuan itu membongkar seluruh cerita yang sempat dipercaya banyak pihak. Dalam keterangannya, NPW juga menegaskan bahwa tidak ada orang lain yang terlibat dalam rekayasa tersebut. Semua tindakan dilakukan atas inisiatifnya sendiri.
Kapolsek Kraksaan, Kompol Masykur, menyayangkan tindakan yang dilakukan oleh NPW. Menurutnya, laporan palsu semacam itu tidak hanya menimbulkan keresahan di tengah masyarakat, tetapi juga menguras waktu dan sumber daya aparat kepolisian yang harus melakukan penyelidikan.
“Kami berharap kepada masyarakat agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Dengan alasan apa pun, cerita bohong seperti ini dapat meresahkan masyarakat dan mengganggu situasi kamtibmas yang selama ini kondusif,” tegas Kompol Masykur.
Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi, terutama yang beredar melalui media sosial. Informasi yang belum terverifikasi dapat dengan cepat memicu kepanikan dan membentuk persepsi yang keliru mengenai kondisi keamanan suatu daerah.
Terungkapnya fakta di balik kabar viral tersebut sekaligus menjawab keresahan warga yang sempat khawatir dengan isu maraknya aksi begal di wilayah Kraksaan. Polisi memastikan bahwa peristiwa pembegalan yang ramai diperbincangkan itu tidak pernah terjadi dan merupakan hasil rekayasa yang dibuat oleh pelapor sendiri. Ke depan, aparat mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan setiap informasi yang diterima agar dapat diverifikasi kebenarannya sebelum disebarluaskan kepada publik. (ted)






