Surabaya (beritajatim.com) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa wilayah Surabaya saat ini mulai memasuki musim kemarau, yang ditandai dengan perubahan suhu cukup kontras antara siang dan malam hari.
Pada siang hari, fenomena udara akan terasa sangat terik, namun suhunya berubah menjadi jauh lebih dingin ketika malam tiba.
Prakirawan BMKG Juanda, Restina Wardhani, menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat minimnya tutupan awan di langit Surabaya dan sekitarnya.
Tanpa adanya awan, panas matahari pada siang hari akan langsung menyengat bumi, sedangkan pada malam hari, panas tersebut segera dilepaskan kembali ke atmosfer tanpa ada yang menahan.
“Pada malam hari tutupan awan lebih sedikit yang mengakibatkan suhu terasa dingin. Pada siang hari suhu akan terasa panas,” ujar Restina, Kamis (4/6/2026).
Untuk wilayah Surabaya sendiri, BMKG memperkirakan suhu udara terendah pada hari ini dapat menyentuh angka 26°C.
Sementara, fenomena suhu dingin di malam hari dan panas menyengat di siang hari ini pun diprediksi masih akan berlangsung hingga beberapa hari ke depan.
“Suhu terdingin pada hari ini mencapai 26 derajat celcius. Dalam beberapa hari ke depan di prakirakan fenomena ini masih akan terjadi,” jelasnya.
Menyikapi cuaca ekstrem tersebut, BMKG Juanda mengimbau masyarakat untuk lebih waspada saat beraktivitas di luar ruangan. Warga sangat disarankan untuk menghindari paparan sinar matahari secara langsung, serta rutin menggunakan tabir surya dan pelindung kulit selama musim kemarau ini.
“Masyarakat dihimbau selalu menggunakan pelindung kulit dan tabir surya saat beraktivitas diluar ruangan dan menghindari paparan matahari langsung,” tutupnya. (rma/aje)






