Ringkasan Berita:
- Wakil Menteri Agama sekaligus Wakil Amirul Hajj Indonesia, Romo H.R. Muhammad Syafii, menilai penyelenggaraan haji 2026 mengalami lompatan pelayanan yang signifikan.
- Kemenhaj disebut berhasil memperbaiki delapan sektor utama, mulai dari pemberangkatan, transportasi, pemondokan, konsumsi hingga layanan kesehatan.
- Sistem pelayanan di Armuzna dinilai lebih tertata dengan dukungan fasilitas yang lebih baik bagi jemaah.
- Indonesia dinilai berpeluang mencatat sejarah baru dalam pelayanan haji setelah mendapat apresiasi dari otoritas Arab Saudi.
Mina (beritajatim.com) – Wakil Menteri Agama sekaligus Wakil Amirul Hajj Indonesia 1447 H/2026 M, Romo H.R. Muhammad Syafii, melontarkan apresiasi tinggi terhadap penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Operasional haji yang dikelola Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) dinilai menghadirkan perubahan besar dalam kualitas pelayanan kepada jemaah Indonesia.
Menurut Romo Syafii, kehadiran kementerian khusus yang menangani urusan haji telah membawa semangat baru sekaligus mempercepat reformasi layanan di berbagai sektor penyelenggaraan ibadah haji.
“Pelaksanaan haji tahun ini sangat berbeda. Saya sudah empat tahun berturut-turut melaksanakan haji, dan tahun ini terasa sekali ada lompatan pelayanan,” ujar Romo Syafii dalam taklimat media di kawasan Mina, Arab Saudi, Kamis (28/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, tingkat kepuasan jemaah di kawasan Mina selama Hari Tasyrik terpantau relatif stabil. Berbagai keluhan yang selama ini kerap muncul terkait logistik, sanitasi, hingga transportasi dilaporkan dapat ditekan melalui koordinasi lintas sektor yang lebih terintegrasi.
Audit Delapan Aspek Utama Pelayanan Haji
Romo Syafii menjelaskan sedikitnya terdapat delapan aspek utama yang mengalami peningkatan kualitas pelayanan pada musim haji tahun ini.
Aspek tersebut meliputi proses pemberangkatan jemaah, penerbangan embarkasi, transportasi, pemondokan hotel, distribusi konsumsi, layanan kesehatan, pengelolaan puncak haji di Armuzna, hingga skenario pemulangan jemaah ke Tanah Air.
Pada tahap awal keberangkatan, pemerintah menerapkan pemeriksaan istitha’ah atau kemampuan kesehatan jemaah secara lebih ketat demi menjaga keselamatan selama menjalankan ibadah haji.
Kebijakan tersebut dibuktikan dengan keputusan memulangkan 345 calon jemaah yang dinilai tidak memenuhi syarat kesehatan sebelum keberangkatan.
Selain itu, jadwal penerbangan embarkasi disebut berjalan lebih tertib dengan tingkat keterlambatan yang minim.
Setibanya di Arab Saudi, jemaah mendapatkan layanan transportasi yang lebih baik melalui operasional bus salawat selama 24 jam penuh. Kualitas hotel pemondokan juga disebut mengalami peningkatan, termasuk di wilayah yang sebelumnya dianggap cukup jauh dari pusat aktivitas jemaah.
“Soal makanan tidak ada keluhan. Malah jemaah bilang khawatir badannya naik. Kami sengaja mengurangi cabai demi menjaga kesehatan menjelang puncak haji,” jabar Romo Syafii.
Perbaikan layanan juga terjadi di sektor kesehatan. Kemenhaj menjalin kerja sama dengan jaringan Saudi German Hospital untuk memperkuat sistem layanan medis bagi jemaah Indonesia.
Selain itu, klinik satelit disiagakan di setiap tower pemondokan guna mempercepat penanganan kesehatan jemaah yang membutuhkan bantuan medis.
Menurut Romo Syafii, langkah tersebut berdampak pada menurunnya jumlah jemaah yang sakit maupun angka kematian dibanding musim haji sebelumnya.
Pelayanan Armuzna Dinilai Cetak Sejarah
Peningkatan pelayanan juga terlihat saat fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Seluruh tenda maktab jemaah Indonesia dilengkapi papan identitas digital per kloter, pendingin ruangan yang lebih stabil, serta dukungan 18 unit mobil buggy untuk membantu mobilitas jemaah yang mengalami kelelahan.
Keberhasilan pengelolaan jemaah Indonesia selama fase Armuzna mendapat perhatian dari pemerintah Arab Saudi. Indonesia yang mengelola salah satu kuota jemaah terbesar di dunia dinilai mampu menjaga ketertiban dan kelancaran operasional secara baik.
Menurut Romo Syafii, apresiasi tersebut terlihat dari undangan yang diterima jajaran Kemenhaj dari otoritas Arab Saudi.
Menteri Haji dan Umrah RI, Muchamad Irfan Yusuf atau Gus Irfan, bahkan mendapatkan undangan khusus ke Istana Mina.
Romo Syafii menilai penghargaan dan perhatian yang diberikan pemerintah Arab Saudi menjadi sinyal positif bahwa Indonesia berpeluang mencatatkan prestasi baru dalam penyelenggaraan ibadah haji.
“Insyaallah ini pertama kali dalam sejarah 80 tahun kemerdekaan Indonesia,” tutur Romo Syafii.
Ia menambahkan, keberhasilan penyelenggaraan haji tahun ini tidak lepas dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menekankan pentingnya kehadiran negara dalam memberikan pelayanan dan perlindungan terbaik bagi jemaah haji Indonesia.
Menurutnya, komitmen tersebut menjadi fondasi utama dalam membangun sistem pelayanan yang lebih responsif, terintegrasi, dan berorientasi pada kenyamanan jemaah selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. [ian/MCH]






