Ringkasan Berita:
- Permintaan tusuk sate di Kabupaten Madiun meningkat drastis menjelang Idul Adha 2026 hingga dua kali lipat.
- Perajin tusuk sate Nahrowi menerima pesanan dari berbagai daerah, termasuk luar pulau dan pondok pesantren.
- Promosi melalui TikTok dan Facebook membuat produk tusuk sate lokal semakin dikenal luas.
Madiun (beritajatim.com) – Momentum Iduladha 2026 membawa berkah bagi para perajin tusuk sate di Kabupaten Madiun. Permintaan tusuk sate meningkat drastis sejak tiga pekan terakhir, bahkan pesanan datang dari berbagai daerah hingga luar Pulau Jawa.
Salah satu perajin yang merasakan lonjakan permintaan tersebut adalah Nahrowi, warga Bangunsari, Kecamatan Dolopo, Kabupaten Madiun. Menjelang Hari Raya Iduladha 2026, produksi tusuk sate miliknya meningkat hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
“Biasanya sehari paling sekitar 50 kilogram, sekarang minimal bisa sampai satu kuintal. Pesanan datang dari luar kota, luar provinsi sampai luar pulau juga,” ujar Nahrowi, Selasa (26/5/2026).
Menurut Nahrowi, jenis tusuk sate yang paling banyak dicari saat ini adalah tusuk sempol. Dalam sepekan, permintaan dari wilayah Tangerang saja bisa mencapai tiga kuintal. Selain itu, tusuk sate ukuran 20 sentimeter dan 22 sentimeter juga banyak diburu masyarakat untuk kebutuhan penyembelihan hewan kurban saat Idul Adha.
“Kalau untuk lokal seperti Caruban, Magetan dan Ngawi paling banyak pesan ukuran 20 dan 22 sentimeter,” katanya.
Meski permintaan meningkat tajam, Nahrowi memilih tidak menaikkan harga jual. Tusuk sate ukuran 15, 18, dan 20 sentimeter tetap dijual Rp13 ribu per kilogram, sedangkan ukuran 22 sentimeter dibanderol Rp14 ribu per kilogram.
Dalam kondisi normal, Nahrowi mampu memproduksi sekitar 40 hingga 80 kilogram tusuk sate per hari secara mandiri tanpa tambahan pekerja. Namun menjelang Idul Adha, tingginya pesanan membuat dirinya harus bekerja hingga larut malam demi memenuhi permintaan pelanggan. “Sekarang hampir tiap hari lembur sampai malam,” ungkapnya.
Tak hanya mengandalkan produksi pribadi, Nahrowi juga menerima setoran tusuk sate dari para tetangganya untuk ikut dipasarkan. Langkah itu dilakukan agar perputaran ekonomi para perajin di lingkungannya tetap berjalan di tengah meningkatnya permintaan pasar.
Lonjakan pesanan yang diterima Nahrowi juga tidak lepas dari promosi melalui media sosial. Anak Nahrowi memanfaatkan TikTok dan Facebook untuk memperkenalkan produk tusuk sate buatannya hingga dikenal luas ke berbagai daerah.
“Awalnya dipromosikan anak lewat TikTok dan Facebook, ternyata banyak yang pesan dari luar kota,” jelasnya.
Selain melayani pengiriman rutin ke sejumlah daerah, Nahrowi mengaku kerap mengirim tusuk sate hingga Makassar. Menjelang Idul Adha tahun ini, sejumlah pondok pesantren juga mulai memesan dalam jumlah besar.
“Nanti ada yang ambil pesanan dari Pondok Pesantren Mayak Ponorogo sebanyak 20 ribu tusuk,” tambahnya.
Untuk menjaga kualitas produksi, Nahrowi memastikan stok bahan baku bambu masih aman. Bambu yang digunakan berasal dari wilayah Kecamatan Dagangan dengan jenis bambu ori dan bambu petung agar tusuk sate tetap kuat dan tajam.
Nahrowi memperkirakan tingginya permintaan tusuk sate masih akan berlangsung hingga beberapa hari setelah Idul Adha, seiring masih berlangsungnya penyembelihan hewan kurban pada hari Tasyrik. [rbr/suf]






