RINGKASAN BERITA:
- Tergabung dalam Kloter 112 Embarkasi Surabaya (SUB 112), kondisi kesehatan jemaah tertua Indonesia ini dipastikan dalam keadaan sehat walafiat.
- Mobilisasi Mbah Marsiah selama fase puncak Armuzna akan dibantu menggunakan kursi roda dengan pendampingan melekat dari putrinya.
- Pendorongan massal seluruh jemaah dari hotel Makkah menuju Padang Arafah mulai digulirkan secara bergelombang hari ini.
Makkah (beritajatim.com) – Jemaah haji tertua Indonesia, Mbah Marsiah (104 tahun) asal Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, menyatakan telah siap lahir dan batin untuk menjalani prosesi wukuf di Padang Arafah. Lansia tangguh ini bersiap dikondisikan bersama jutaan jemaah dari belahan dunia untuk menjalani inti ibadah haji pada Selasa, 26 Mei 2026.
Kepastian ini menjadi kabar menyejukkan di tengah mulainya mobilisasi massal jemaah haji Indonesia yang diberangkatkan secara bergelombang dari hotel pemondokan Makkah menuju Arafah hari ini, Senin (25/5/2026). Di tengah kepungan cuaca panas yang ekstrem, ketahanan fisik jemaah lansia menjadi fokus pengawasan utama petugas.
“Alhamdulillah, atiku marem (hatiku senang, Red),” kata Mbah Marsiah mengekspresikan kelapangan hatinya saat ditemui tim Media Center Haji (MCH) di pelataran hotel tempatnya menginap di Makkah.
Perempuan seabad lebih ini mengaku sangat bahagia karena impian panjang yang dicita-citakannya untuk menyempurnakan rukun Islam kelima akhirnya dapat terwujud nyata. Tidak tampak raut lelah di wajahnya meski telah melewati perjalanan panjang dari tanah air ke Arab Saudi.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, lobi hotel pemondokan Kloter SUB 112 saat ini dipenuhi suasana haru bercampur semangat. Petugas layanan Lansia dan Disabilitas (Landis) tampak bersiaga penuh di sekitar Mbah Marsiah guna memastikan proses pemindahannya ke atas bus syarikah berjalan mulus tanpa hambatan.
Untuk menunjang mobilitas fisik di lapangan yang dipastikan menguras energi, Mbah Marsiah yang tergabung dalam Kelompok Terbang 112 Embarkasi Surabaya (SUB 112) akan menggunakan fasilitas kursi roda. Seluruh pergerakannya di kawasan Armuzna akan dikawal ketat oleh anak kandungnya, Nuriah (63 tahun).
Kolaborasi pendampingan keluarga dan kesiapsiagaan petugas adhoc Kemenhaj menjadi kunci utama dalam menjaga kenyamanan psikologis jemaah. Skenario pengamanan melekat diterapkan demi menyukseskan program prioritas haji ramah lansia tahun ini.
Ketua Kloter SUB 112, Abiswatun Nadhiroh, menegaskan bahwa tim medis kloter telah melakukan pemeriksaan klinis secara berkala terhadap Mbah Marsiah sebelum bus penjemput tiba. Hasil pemeriksaan menunjukkan indikator kesehatan yang stabil dan aman untuk mengikuti pergerakan massal.
“Mbah Marsiah dalam keadaan sehat dan siap menjalani ibadah haji bersama jamaah lainnya,” tegas Abiswatun mantap.
Mbah Marsiah merupakan satu dari total 221 ribu jemaah haji Indonesia yang tahun ini mendapatkan kesempatan berharga untuk menunaikan ibadah di Tanah Suci. Keberangkatannya menjadi simbol daya juang spiritual yang tinggi sekaligus potret nyata dari keberhasilan pengetatan syarat istitha’ah kesehatan yang diprogramkan pemerintah. [ian/MCH]






