RINGKASAN BERITA:
- Tim medis dikunci dalam skema proteksi proaktif 24 jam demi mengawal kesehatan jemaah lansia dan disabilitas.
- Operasional seluruh armada bus salawat resmi dihentikan sementara per 5 Zulhijah pukul 18.00 WAS demi sterilisasi rute.
- Jemaah diimbau menghemat energi dan memindahkan aktivitas ibadah harian ke musala pemondokan masing-masing.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia berada dalam posisi siaga satu untuk mengawal pergeseran raksasa jemaah haji menuju fase puncak Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina). Langkah taktis ini diambil menyusul adanya peringatan dini terkait fluktuasi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi yang diprediksi menyengat hingga kisaran 47 derajat Celsius.
Sistem komputer Siskohat mencatat gelombang kedatangan manusia dari tanah air sudah mengunci angka ratusan ribu jiwa. Seluruh lorong pemondokan di seantero Makkah kini telah dipadati jemaah yang sedang bersiap menghadapi ujian fisik terberat dalam rukun dan wajib haji.
Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaf mengungkapkan bahwa grafik kedatangan portofolio reguler sejauh ini berhasil dijaga dalam koridor aman. Konsentrasi penuh ribuan petugas di lapangan kini dialihkan pada aspek ketahanan logistik kota, seperti pemetaan kamar transit, distribusi katering, hingga pasokan air bersih.
“Berdasarkan data terbaru dari Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), total jemaah haji Indonesia yang telah tiba di Arab Saudi telah mencapai 185.432 jemaah yang terbagi dalam 442 kelompok terbang (kloter),” ujar Maria Assegaf dalam konferensi pers resmi di Media Center Haji (MCH), Senin (25/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kesibukan di posko kesehatan tingkat sektor meningkat tajam seiring mengalirnya jemaah gelombang kedua. Petugas linmas dan tim katering bergerak cepat memastikan asupan nutrisi serta kesiapan kursi roda untuk memitigasi risiko tumbangnya jemaah akibat sengatan panas (heatstroke).
Bagi korps petugas, tantangan terbesar pada musim haji kali ini adalah menjaga agar kondisi fisik jemaah tidak drop sebelum ritual wukuf dimulai. Benteng pertahanan medis pun dipaksa bekerja ekstra keras melakukan skrining kesehatan dari pintu ke pintu kamar pemondokan.
“Saat ini, fokus konsentrasi seluruh petugas haji dan PPIH Arab Saudi adalah memastikan kesiapan akomodasi, katering, serta layanan transportasi jemaah di Kota Makkah Al-Mukarramah,” kata Maria memetakan prioritas penanganan petugas di lapangan.
Menyikapi risiko kelelahan akut akibat cuaca ekstrem, Kemenhaj mengunci pergerakan tim medis melalui skema proteksi proaktif selama 24 jam penuh. Pola penanganan ini diklaim sejalan dengan program prioritas negara, yakni ‘Haji Ramah Lansia dan Disabilitas’.
Maria tidak menampik bahwa grafik kunjungan jemaah ke klinik kesehatan di tingkat sektor bergerak cukup dinamis dalam beberapa hari terakhir. Sebagian besar keluhan yang masuk dipicu oleh faktor dehidrasi dan kelelahan fisik akibat proses adaptasi dengan suhu udara Makkah yang menyengat.
Oleh karena itu, jemaah haji Indonesia diimbau untuk menahan diri dan tidak melakukan aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak. Penghematan energi mutlak diperlukan agar kondisi fisik tetap bugar menghadapi puncak wukuf.
“Kami mengimbau kepada seluruh jemaah, khususnya para lansia, untuk membatasi aktivitas fisik di luar hotel yang tidak mendesak, memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi,” tutur Maria mengingatkan.
Satu kebijakan krusial yang wajib diantisipasi oleh jemaah dan keluarga di tanah air adalah manajemen transportasi internal Makkah. Akses bus salawat yang selama ini mengantar jemaah dari hotel menuju Masjidil Haram pulang-pergi akan dikunci atau disetop operasinya untuk sementara waktu.
Langkah ini diambil sebagai prosedur standar sterilisasi lalu lintas Kota Makkah. Jalur utama harus dikosongkan dari angkutan reguler agar armada bus syarikah dan truk logistik pembawa tenda serta konsumsi puncak haji dapat bergerak lancar ke kawasan Armuzna.
Maria menjelaskan bahwa suspensi operasional bus salawat ini akan diberlakukan mulai tanggal 5 Zulhijah pada pukul 18.00 Waktu Arab Saudi (WAS). Selama masa penghentian sementara tersebut, jemaah disarankan untuk memusatkan aktivitas ibadah wajib maupun sunnah di pemondokan masing-masing.
“Oleh karena itu, kami meminta jemaah untuk memanfaatkan musala hotel atau masjid terdekat di sekitar pemondokan demi menjaga stamina dan kebugaran fisik sebelum puncak wukuf di Arafah,” papar Maria secara rinci.
Menutup keterangannya, Jubir Kemenhaj melempar apresiasi tinggi terhadap soliditas korps petugas di lapangan serta awak media yang konsisten mengawal jalannya ibadah dengan pendekatan yang empatik. Jemaah diharapkan terus menjaga kedisiplinan kelompok agar seluruh prosesi rukun haji berjalan mulus.
Pihak kementerian juga mengajak seluruh masyarakat di tanah air untuk ikut menyelipkan doa demi keselamatan dan kelancaran perjalanan spiritual tamu Allah. Kekompakan antara jemaah dan petugas di lapangan menjadi kunci utama meraih kesuksesan operasional tahun ini.
“Mari bersama-sama kita jaga kekompakan, kedisiplinan, dan terus mendoakan agar seluruh jemaah haji Indonesia diberikan kesehatan, kelancaran dalam beribadah,” pungkasnya. [ian/MCH]






