RINGKASAN BERITA:
- Jumlah jemaah haji yang dirawat dan wafat tahun ini menurun signifikan berkat pengetatan syarat istitha’ah kesehatan di tanah air.
- Kemenhaj menyiagakan lebih dari 1.200 tenaga kesehatan serta klinik darurat untuk mengawal fase puncak Armuzna.
- Pemerintah Indonesia terus melobi otoritas Arab Saudi terkait regulasi ketat operasional safari wukuf bagi jemaah lansia.
Makkah (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah (Menhaj) RI Moch Irfan Yusuf bersama Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menginspeksi kesiapan layanan medis di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah. Langkah ini diambil guna menjamin kesiapsiagaan seluruh fasilitas dan penanganan darurat bagi jemaah menjelang fase puncak Armuzna.
Dalam kunjungan kerja tersebut, rombongan Amirulhaj memantau langsung kinerja para tenaga kesehatan serta manajemen perawatan pasien. Menhaj menegaskan, peninjauan ini sangat penting untuk mengukur ketahanan posko kesehatan dalam mengawal pergerakan ratusan ribu jemaah.
“Hari ini kami memang sengaja datang ke KKHI untuk memastikan kesiapan teman-teman kesehatan haji Indonesia, bagaimana pelayanannya selama musim haji yang sudah berlangsung hampir satu bulan ini, dan terutama persiapan untuk Armuzna nanti,” ujar Irfan Yusuf di Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, suasana di KKHI Makkah saat ini relatif terkendali tanpa adanya penumpukan pasien yang membeludak. Kondisi ini menjadi sinyal positif jelang pendorongan jemaah massal ke wilayah Arafah yang dijadwalkan bergulir dalam waktu dekat.
Menhaj mengakui bahwa operasional tim medis tahun ini dihadapkan pada tantangan regulasi kesehatan dari Pemerintah Arab Saudi yang sangat ketat dan dinamis. Kendati demikian, seluruh jajaran kesehatan Indonesia dinilai cakap beradaptasi tanpa menurunkan standar perlindungan bagi jemaah.
“Memang ada beberapa kendala terkait regulasi yang berlaku di sini, tetapi teman-teman berusaha menyesuaikan diri, bagaimana tetap mematuhi regulasi namun tetap bisa memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah kita,” urainya.
Untuk mengamankan fase Armuzna, Kemenhaj telah mematangkan posko medis satelit berupa klinik-klinik darurat di titik-titik krusial maktab. Struktur rujukan medis juga diperkuat lewat integrasi langsung dengan fasilitas rumah sakit lokal milik Arab Saudi.
“Kami ada klinik-klinik di sana untuk pelayanan darurat, tetapi tetap bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah Saudi. Pada kondisi tertentu, jemaah harus segera dirujuk ke rumah sakit di Saudi,” jelas Menhaj.
Secara akumulatif, kekuatan korps medis yang diterjunkan tahun ini mencapai lebih dari 1.200 personel. Formasi pengawalan melekat menempatkan satu dokter dan satu perawat di setiap kelompok terbang (kloter), yang ditopang oleh ratusan petugas medis tersertifikasi di bawah komando PPIH Arab Saudi.
“Kami memiliki sekitar 1.200 tenaga kesehatan. Tiap kloter ada satu dokter dan satu perawat, kemudian di PPIH juga ada ratusan tenaga kesehatan. Insya Allah ini akan bisa melayani jemaah kita selama Armuzna,” ungkapnya.
Menhaj membeberkan indikator keberhasilan fundamental pada musim haji kali ini, di mana kurva jemaah yang harus dirawat maupun angka kematian di Tanah Suci mengalami penurunan yang sangat signifikan. Tren positif ini merupakan dampak langsung dari kebijakan pengetatan skrining kesehatan di tanah air sebelum keberangkatan.
“Salah satu alasannya karena pemeriksaan istitha’ah kesehatan di tanah air relatif lebih ketat dibanding tahun sebelumnya. Sehingga hari ini yang dirawat turun drastis, yang meninggal juga turun drastis,” kata Irfan Yusuf.
Di sisi lain, Kemenhaj masih mengupayakan lobi diplomatik dengan otoritas lokal mengenai regulasi safari wukuf jemaah lansia dan risti agar skema perlindungan jemaah tidak berbenturan dengan aturan hukum Arab Saudi.
“Safari wukuf secara resmi memang tidak diperbolehkan oleh otoritas Saudi, tetapi kita akan mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan yang tidak melanggar regulasi dan terus berkoordinasi dengan Pemerintah Saudi,” akunya.
Menko PM Abdul Muhaimin Iskandar turut memberikan apresiasi mendalam atas ketangguhan para dokter dan perawat Indonesia yang dinilai cerdas membaca situasi di lapangan.
“Terima kasih kepada para tenaga kesehatan yang sangat tangguh menghadapi regulasi Pemerintah Saudi yang super ketat dan terus berubah. Teman-teman dokter mampu mengantisipasi dengan kecerdasan dan langkah-langkah yang tepat,” puji Muhaimin.
Pemerintah berkomitmen untuk terus menjadikan temuan klinis di lapangan sebagai bahan evaluasi berkala agar pola pelayanan kesehatan haji ke depan jauh lebih efektif, efisien, serta adaptif terhadap dinamika di Arab Saudi. [ian/MCH]






