RINGKASAN BERITA:
- Seluruh jemaah uzur tetap wajib mengikuti wukuf di Arafah pada 9 Zulhijah demi keabsahan rukun utama ibadah haji.
- Mobilisasi mabit di Muzdalifah bagi jemaah khusus menggunakan skema murur atau melintas di dalam bus tanpa turun.
- Aktivitas wajib melontar jumrah di Jamarat bagi jemaah lansia dan disabilitas dapat didelegasikan melalui sistem badal.
Makkah (beritajatim.com) – Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mematangkan proteksi ibadah melalui penyiapan skema khusus bagi jemaah haji lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah dengan risiko kesehatan tinggi (risti). Skenario kedaruratan fungsional ini akan diaktifkan secara penuh saat pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) 1447 H / 2026 M.
Meski mendapatkan pelbagai dispensasi atau keringanan tata cara operasional, seluruh jemaah dengan kondisi khusus tersebut tetap diwajibkan untuk berada di kawasan Arafah pada 9 Zulhijah. Hal ini dikarenakan wukuf merupakan rukun tertinggi ibadah haji yang tidak dapat digantikan atau diwakilkan oleh siapa pun.
“Dengan skema apa pun mereka tetap harus berada di Arafah agar hajinya sah,” tegas Musyrif Dini PPIH Arab Saudi, Haris Muslim, kepada tim Media Center Haji (MCH) di Makkah.
Haris menjelaskan bahwa syariat Islam memberikan ruang kelonggaran (rukhsah) yang sangat luas bagi umat yang memiliki keterbatasan fisik maupun gangguan kesehatan. Berdasarkan kaidah fikih, sebuah kesulitan atau kondisi darurat di lapangan secara otomatis akan mendatangkan kemudahan hukum bagi hambanya.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, tim pengawas ibadah saat ini tengah mengunci validasi data kloter guna memisahkan jemaah mandiri dengan jemaah khusus. Langkah proaktif ini diambil agar sebaran logistik, kursi roda, dan armada bus khusus tidak salah sasaran.
Guna mengoptimalkan pelayanan, PPIH Arab Saudi menetapkan lima kategori jemaah uzur yang berhak mengakses fasilitas khusus di Armuzna. Kategori tersebut meliputi jemaah dengan penyakit risiko tinggi, lansia, penyandang disabilitas, jemaah dengan kondisi obesitas ekstrem, serta para petugas pendamping kloter atau keluarga.
“Pendamping ini penting karena mereka membutuhkan bantuan selama proses ibadah di Armuzna,” cetus Haris.
Penerapan Skema Murur di Muzdalifah
Salah satu adaptasi krusial dalam skema khusus ini terletak pada fase mabit (bermalam) di Muzdalifah. Jemaah yang masuk dalam kategori uzur tidak akan diturunkan ke hamparan terbuka, melainkan menggunakan skema murur, yakni melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bodi bus.
Teknisnya, bus khusus akan bergerak membawa jemaah dari maktab Arafah, melewati jalur cepat Muzdalifah untuk sekadar berdiam sejenak (taraddudi), lalu langsung meluncur menuju tenda pemondokan di Mina. Strategi ini membedakan mereka dari rombongan jemaah reguler yang harus turun dan bermalam di atas hamparan karpet Muzdalifah.
“Kalau mereka turun justru membahayakan kondisi jemaah. Karena itu bus hanya melintas dan langsung menuju Mina,” urai Haris mengalkulasi risiko kepadatan massa.
Kelonggaran protektif juga diberlakukan pada rangkaian wajib haji lainnya, yakni melontar jumrah di Jamarat. Mengingat area eskalator dan lantai Jamarat sangat padat serta memiliki keterbatasan ruang untuk kursi roda, PPIH melarang keras jemaah lansia memaksakan diri berjalan kaki.
Sebagai solusinya, pelaksanaan melontar jumrah bagi jemaah lansia dan disabilitas diperbolehkan untuk dibadalkan atau diwakilkan kepada petugas maupun rekan sekloter. Fikih haji juga mengizinkan opsi penggabungan (jamak) pelaksanaan lontar untuk beberapa hari sekaligus demi keselamatan jiwa.
Menutup keterangannya, Haris Muslim mengimbau seluruh jemaah khusus ini untuk mutlak menghemat energi di dalam kamar hotel menjelang pendorongan massal. Jemaah diminta jeli mengatur ritme aktivitas ibadah sunah agar stamina tidak kedodoran saat memasuki hari-hari kritis di Mina.
“Yang paling penting sekarang menjaga kesehatan agar saat puncak haji tidak terlalu memberatkan bagi mereka sendiri,” pungkasnya. [ian/MCH]






