Ringkasan Berita:
- Ketua Komisi B DPRD Jember, Candra Ary Fianto, meminta maaf kepada mahasiswa terkait perilaku anggota DPRD Jember yang viral bermain game saat rapat pembahasan stunting.
- Candra menyebut insiden tersebut menjadi evaluasi internal partai politik agar kader yang duduk di legislatif memiliki etika, kapasitas, dan kapabilitas yang lebih baik.
- Dalam diskusi di FISIP Universitas Jember, Candra juga mengajak mahasiswa aktif dalam politik, meningkatkan literasi, serta menjadi agen perubahan di tengah tantangan demokrasi dan minimnya ruang diskursus publik.
Jember (beritajatim.com) – Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Candra Ary Fianto, meminta maaf kepada mahasiswa, saat menghadiri acara nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, di aula kampus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember, Sabtu (23/5/2026).
“Kami mohon maaf, beberapa waktu lalu ada peristiwa yang menjadi momentum dan evaluasi bagi kami sebagai pribadi yang ditugaskan di legislatif, ada salah satu kawan kami yang tidak etis. Ketika membahas masalah stunting, membahas masalah rakyat, dia ‘berpesta sapi’,” kata Candra.
Permohonan maaf ini terkait dengan viralnya aksi politisi Partai Gerindra Achmad Syahri Assidiqi yang bermain game sambil merokok saat rapat dengar pendapat Komisi D DPRD Jember, Senin (11/5/2026).
Belakangan terungkap, bahwa Syahri sedang bermain game Hay Day. “Ternyata sapi di game-nya itu belum dikasih makan. Jadi beliau memberi makan sapi-sapi tersebut,” kata Ketua Fraksi Partai Gerindra DPRD Jember Hanan Kukuh Ratmono, Senin (18/5/2026).
“Ke depan itu menjadi momentum kami di partai politik agar proses pendidikan politik di dalam internal kami bisa menjadi lebih baik, dan orang-orang yang ditugaskan di legislatif nanti punya kapasitas dan kapabilitas yang baik,” kata Candra.
Candra berharap para mahasiswa tetap bisa menjadi agen perubahan. “Orang baik, anak-anak orang-orang baik, orang yang berpendidikan, harus tahu dan mengerti politik,” katanya.
Menurut Candra, semua hal terkait kehidupan masyarakat berkaitan dengan politik dan kebijakan yang dibuat secara politik. “Kalau memungkinkan masuklah ke partai politik yang sesuai menurut pandangan kalian,” katanya.
Candra mengingatkan bagaimana Indonesia diperjuangkan oleh anak-anak muda. Salah satunya oleh Sukarno yang membacakan pidato berjudul Indonesia Menggugat di depan pengadilan kolonial Belanda (Landraad) di Bandung pada 1930. ”
“Di sini para pendiri bangsa bukan hanya membela diri sendiri, tapi mereka memberikan gagasan, memberikan ide, memberikan satu bentuk kesadaran kepada rakyat Indonesia,” kata Candra.
“Mereka mengecam betul kapitalisme, imperialisme, kolonialisme yang mencekeram bangsa Indonesia, yang mungkin salah satu efeknya sampai saat ini. Pembelaan tersebut menjadi satu obor yang menjadi pencahayaan bagi kawan-kawan muda,” kata Candra.
Candra mengatakan, para pendahulu sudah berjuang untuk memerdekakan Indonesia dengan berbagai macam cara dan perlawanan. “Nilai-nilai ini yang menurut kami hari ini masih belum bisa kita hikmati sebagai orang-orang muda,” katanya.
Ini tak lepas dari rendahnya kultur literasi di kalangan anak-anak muda. “Akhirnya tidak banyak diskursus yang muncul dari diskusi atau pertentangan ide,” kata Candra.
“Di tengah paradoks demokrasi hari ini: media media massa dibungkam, akademisi tidak bisa bersuara dengan baik, dan partai politik hari ini tidak bisa menunjukkan jati diri dan fungsinya, maka teman-teman muda yang memungkinkan untuk memberikan nilai,” katanya.
Candra mengajak para mahasiswa untuk membangun kesadaran dan empati di sekitar kita. “Banyak isu lokal yang sangat berpengaruh ke depan bagi keberlangsungan masyarakat,” katanya. [wir/suf]






