RINGKASAN BERITA:
- Wamenhaj Dahnil Anzar Simanjuntak bersama tim Amirul Hajj menjajal langsung Bus Shalawat dari Aziziyah ke Terminal Jabal Ka’bah.
- Rute dari Hotel Al-Hidayah Tower sepanjang 12 kilometer terbukti sukses dipangkas dengan waktu tempuh hanya 15-20 menit.
- Kelancaran sirkulasi armada tercapai karena penerapan sistem poin ke poin (point-to-point) tanpa memutar ke sektor lain.
- Kemenhaj mewacanakan perubahan indikator penentuan hotel masa depan yang berbasis durasi tempuh ketimbang jarak sosiologis.
Makkah (beritajatim.com) – Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dahnil Anzar Simanjuntak, menguji langsung efektivitas dan durasi tempuh operasional armada Bus Shalawat dari Sektor 10 Wilayah Aziziyah menuju Terminal Jabal Ka’bah Makkah guna memastikan mobilisasi jemaah ke Masjidil Haram berjalan tanpa hambatan. Hasil uji sirkulasi mencatat, bentangan jarak terjauh sepanjang 12 kilometer dari Hotel Al-Hidayah Tower menuju terminal transit sukses dipangkas dengan waktu tempuh berkisar antara 15 hingga 20 menit saja.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, kelancaran arus transportasi 24 jam non-stop ini menjadi jaminan pelayanan positif yang sangat melegakan bagi jemaah haji Indonesia.
Berdasarkan data operasional hari ke-29 per Selasa (19/5/2026), kehadiran armada Bus Shalawat yang responsif ini berhasil mengikis kecemasan fisik 182.332 jemaah reguler yang kini memadati Kota Suci—termasuk ribuan jemaah asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur (Embarkasi Surabaya/SUB)—dari risiko kelelahan akut di bawah kepungan suhu panas ekstrem yang menyentuh angka 44 derajat Celsius.
Dalam inspeksi moda transportasi massal tersebut, Dahnil tidak sendirian. Ia menggandeng dua tokoh Amirul Hajj yang memiliki kepakaran strategis di bidang logistik dan infrastruktur perhubungan, yaitu pengusaha jalan tol Jusuf Hamka (Baba Alun) serta Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Komjen Pol (Purn) Suntana. Kehadiran tim ahli ini difokuskan untuk mengaudit ketahanan manajemen lalu lintas yang dikelola PPIH Arab Saudi menjelang puncak Armuzna.
“Karena [Al-Hidayah] menjadi hotel yang paling jauh. Paling jauh, sekitar 12 km,” kata Dahnil saat diwawancara di atas bus shalawat menuju Terminal Jabal Ka’bah, Selasa (19/5/2026).
Dahnil sengaja naik membaur bersama rombongan jemaah di dalam bus menjelang waktu shalat Ashar, di mana kondisi jalanan Kota Makkah sedang berada pada titik terpadat (peak season). Di atas kabin kendaraan, Wamenhaj mewawancarai langsung jemaah yang duduk di sebelahnya mengenai durasi perjalanan harian mereka untuk menunaikan shalat lima waktu ke Masjidil Haram.
“Jemaah yang menggunakan bus shalawat untuk salat lima waktu, itu rata-rata berapa pak?” kata Dahnil bertanya. Jemaah yang berada di sampingnya menjawab secara spontan, “10-15 menit.”
Fakta tersebut berbanding lurus dengan observasi berkala yang dilakukan oleh Tim Media Center Haji (MCH) sebelumnya. Pada uji coba pertama tanggal 2 Mei 2026, perjalanan memakan waktu 20 menit akibat adanya dua titik pemeriksaan (check point) dokumen oleh kepolisian Saudi. Namun, pada uji coba kedua seminggu setelahnya, durasi terpangkas menjadi hanya 15 menit karena jalur sterilisasi bebas pemeriksaan langsung diberlakukan.
Kecepatan ini berhasil dipertahankan karena Kemenhaj menerapkan sistem perjalanan langsung tanpa transit (point-to-point). “Jadi relatif lancar, jadi tidak banyak isu, malah justru banyak kemudahan. Menggunakan fasilitas bus shalawat yang bisa digunakan 24 jam,” urai Dahnil puas setelah membuktikan minimnya aduan dari Sektor 10.
Wacana Baru Standardisasi Hotel Haji Masa Depan
Keberhasilan simulasi rute terjauh ini memicu Kemenhaj RI di bawah komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk merombak indikator cetak biru penyewaan pemondokan haji pada musim-musim mendatang. Dahnil menegaskan, esensi kenyamanan jemaah tidak lagi diukur dari dekat atau jauhnya jarak hotel secara geografis, melainkan pada hitungan menit durasi tempuh kendaraan yang bebas dari kemacetan sirkular.
“Kita mau pilih apakah jarak tempuh atau waktu tempuh. Pemilihan hotel ke depan harus fokus pada jarak tempuh atau waktu tempuh. Kalau melihat jemaah, rerata mereka akan pilih waktu tempuh. Kalau waktu tempuhnya bisa dipersingkat meski jaraknya jauh, kenapa tidak dipertimbangkan. Menurut saya, justru yang paling penting diperhatikan saat menentukan hotel jemaah adalah fasilitas hotel yang layak dan lengkap,” tegas Dahnil.
Standardisasi kenyamanan Al-Hidayah Tower yang memiliki fasilitas mesin cuci kapasitas besar, kantin kuliner lokal, hingga klinik satelit jemput bola dinilai menjadi model ideal haji inklusif ramah lansia. Proteksi transportasi ini kian menguatkan kesiapan elemen pelayanan lainnya menyambut pergerakan massal menuju Arafah pada Senin, 25 Mei 2026 (8 Dzulhijjah), di mana jemaah juga telah dijamin keamanannya lewat pembagian 3.082.200 paket makanan siap santap (ready to eat) Nusantara serta skema mabit murur rukhsah di Muzdalifah agar pelaksanaan wukuf pada Selasa, 26 Mei mendatang berjalan aman dan khusyuk. [ian/MCH]






