Ringkasan Berita:
- BPBD Jatim memprediksi musim kemarau 2026 lebih panjang dan panas dibanding tahun lalu.
- Bondowoso menjadi daerah pertama yang mengajukan bantuan air bersih ke Pemprov Jatim.
- BPBD Jatim telah menyalurkan 10 ribu liter air untuk 140 KK di Bondowoso.
- Ribuan logistik dan opsi hujan buatan disiapkan menghadapi ancaman kekeringan.
Surabaya (beritajatim.com) – Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur memperingatkan masyarakat agar bersiap menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih ekstrem dibanding tahun sebelumnya.
Meski ancaman kekeringan mulai diwaspadai di sejumlah wilayah, hingga saat ini baru Kabupaten Bondowoso yang resmi mengajukan bantuan kedaruratan air bersih ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Kepala Pelaksana BPBD Jatim, Gatot Soebroto, mengungkapkan Bondowoso menjadi daerah pertama yang meminta bantuan dropping air bersih untuk warga terdampak kekeringan.
“Daerah lainnya seperti Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, serta Kabupaten Blitar saat ini statusnya masih bisa diatasi secara mandiri menggunakan APBD mereka sendiri,” ujar Gatot saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Senin (18/5/2026).
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Jatim telah menyalurkan 10.000 liter air bersih menggunakan dua armada truk tangki.
Bantuan tersebut didistribusikan ke tiga titik rawan kekeringan, yakni Dusun Banteng Lor, Sumberwaru, dan Banteng Duk Betok, guna memenuhi kebutuhan 140 kepala keluarga (KK).
Menghadapi ancaman kekeringan yang diprediksi semakin berat tahun ini, BPBD Jawa Timur juga telah menyiapkan berbagai logistik penunjang untuk membantu kabupaten dan kota yang membutuhkan.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat memiliki sarana penampungan air yang memadai ketika distribusi bantuan dilakukan.
Gatot merinci, logistik yang disiagakan meliputi 867 rit distribusi air bersih dengan kapasitas 5.000 liter per mobil tangki.
Selain itu, BPBD Jatim juga menyiapkan 474 unit tandon statis, 165 tandon lipat, 9.600 lembar terpal, serta 400 jerigen guna mendukung penanganan dampak kekeringan.
Tak hanya itu, BPBD Jatim juga membuka peluang mengajukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana jika kondisi di lapangan semakin memburuk.
Namun hingga saat ini, opsi tersebut masih belum dianggap mendesak karena volume air di sejumlah waduk utama di Jawa Timur masih dalam kondisi aman.
“Hingga hari ini OMC belum kami lakukan karena volume air di waduk-waduk utama Jatim terpantau masih mencukupi. Curah hujan juga masih sesekali turun, meski cuaca harian sudah mulai panas. Jika nanti BMKG melihat ada potensi awan hujan dan waduk mulai kritis, baru kita tindak lanjuti,” pungkas Gatot. [tok/beq]






