Ringkasan Berita:
- Tim regulasi SFDA dan Amanah menginspeksi dapur katering jemaah Indonesia tiga kali sehari.
- Ekosistem katering Makkah bersiap penuh melayani kebutuhan gizi jemaah mulai 28 Dzulqa’dah.
- Standardisasi menu difokuskan pada akurasi cita rasa asli Nusantara untuk menjaga nafsu makan jemaah.
- Langkah preventif ini krusial guna menjaga stamina jemaah di tengah suhu ekstrem 43 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Otoritas Arab Saudi memperketat pengawasan logistik jemaah haji Indonesia dengan menginspeksi seluruh dapur katering di Makkah sebanyak tiga kali sehari guna menjamin keamanan pangan dan keaslian cita rasa Nusantara menjelang fase puncak Armuzna.
Langkah preventif ini dilakukan secara masif oleh Amanah Ibu Kota Suci bersama Otoritas Umum Makanan dan Obat-obatan Arab Saudi (SFDA) untuk memastikan standardisasi nutrisi harian jemaah terpenuhi dengan aman.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, seluruh perusahaan penyedia konsumsi kini berada dalam status kesiapan penuh (on high alert).
Pengawasan berlapis ini sengaja ditingkatkan guna memitigasi risiko penurunan stamina 158.978 jemaah Indonesia, termasuk rombongan besar asal berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Timur yang saat ini sedang beradaptasi dengan paparan suhu ekstrem Makkah yang menyentuh angka 43 derajat Celsius.
Ketua Asosiasi Dapur Makkah dan Masyair, Ahmad Syarif, menegaskan seluruh ekosistem katering ditargetkan mencapai puncak kesiapan operasional dan jaminan keamanan pangan pada tanggal 28 Dzulqa’dah mendatang. Langkah ini menjadi garansi profesional atas komitmen Pelayan Dua Kota Suci dalam memuliakan para tamu Allah (dhuyufurrahman).
“Di bawah pengawasan ketat dari Kementerian Haji dan Umrah, Amanah Ibu Kota Suci (Pemerintah Kota Makkah), serta Kementerian Dalam Negeri, kami memastikan seluruh layanan yang diberikan memenuhi spesifikasi, standar, dan kualitas tertinggi,” ungkkap Ahmad Syarif menggunakan bahasa Arab dalam rapat koordinasi teknis bersama Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi (PEE) Kemenhaj RI Jaenal Arifin dan para penyedia layanan konsumsi di Makkah.
Inspeksi Berlapis Tiga Kali Sehari
Guna mengejar target nihil kasus keracunan makanan (zero food poisoning), tim pengawas dari SFDA menerjunkan personel untuk memantau langsung higienitas dapur mulai dari proses penerimaan bahan baku, pengolahan, hingga proses pengemasan boks logistik jemaah.
“Saya memastikan bahwa tim pengawas mengunjungi setiap perusahaan katering rata-rata tiga kali dalam sehari. Langkah preventif ini diambil demi mendongkrak kualitas keselamatan pangan sehingga makanan yang dikonsumsi jemaah benar-benar aman,” jelas Ahmad.
Pengawasan ketat ini juga berlaku bagi tiga produsen katering asal tanah air, yakni PT Halalan Thayyiban Indonesia, PT Indo Niaga Agro, dan PT Laukita Bersama Indonesia, yang ditunjuk Kemenhaj untuk menyuplai 15 kali makanan siap santap (ready to eat) saat fase krusial puncak haji nanti.
Ahmad Syarif menyoroti kemitraan historis yang erat antara Arab Saudi dan Indonesia sebagai landasan utama penyusunan menu katering.
Standardisasi menu harian sengaja dirancang menyerupai rasa masakan rumahan di Indonesia, lengkap dengan penggunaan bumbu otentik serta keterlibatan juru masak (chef) asli dari Indonesia di setiap dapur mitra.
Akurasi cita rasa nusantara ini dinilai efektif mempertahankan nafsu makan jemaah risti dan lansia yang rentan menurun akibat dehidrasi atau kejutan budaya (culture shock).
“Kami ingin memastikan jemaah haji Indonesia, selama menjalani ritual ibadah di Tempat-Tempat Suci, merasa seperti berada di rumah sendiri. Segala hidangan, makanan, hingga minuman yang kami sajikan disesuaikan dengan lidah dan kuliner asli Indonesia,” pungkas Ahmad.
Petugas kloter kini diimbau untuk terus mengawal ketepatan jam distribusi makanan (on-time delivery) di setiap hotel pemondokan sebelum pendorongan massa ke Padang Arafah dimulai. [ian/MCH/suf]






