Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pasang badan memberikan ruang bagi mahasiswanya untuk membedah film dokumenter ‘Pesta Babi’. Meski dilarang di banyak tempat, Kampus Pahlawan ini justru menjadikannya bahan diskusi terbuka.
Himpunan Mahasiswa Studi Pembangunan (Himadev) menggelar agenda ini sebagai bagian dari mata kuliah Kajian Agraria. Mereka mengundang jurnalis senior Harian Kompas, Ambrosius Harto Manumoyoso dan dosen Khairun Nisa dalam forum tersebut.
Dosen yang akrab disapa Icha itu menilai film tentang konflik agraria di Papua ini bisa memperkaya sudut pandang. Baginya, setiap kebijakan pemerintah harus melibatkan suara masyarakat dari bawah agar benar-benar adil.
“Film ini sangat relevan dijadikan studi kasus untuk menilai suatu kebijakan nasional melalui ketiga dimensi keadilan tersebut,” ujarnya dikutip Kamis (14/5/2026).
Icha menambahkan, kebijakan negara harus berlandaskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya melihat angka ekonomi, namun juga menimbang nilai moral dan budaya masyarakat setempat.
“Kebijakan tidak bisa hanya dinilai dari sisi ekonomis, tetapi juga harus mempertimbangkan nilai moral, sosial, budaya, dan keadilan bagi masyarakat,” imbuhnya.
Sementara itu, Ambrosius melihat dokumenter sebagai alat investigasi yang efektif untuk membangun kesadaran publik. Ia menganggap wajar jika sebuah karya film memicu perdebatan atau bersifat provokatif di tengah masyarakat.
“Provokasi di sini bukan untuk menyulut emosi, tetapi sesuatu yang mampu mendorong kita untuk menentukan sikap terhadap suatu persoalan,” jelasnya.
Jurnalis kawakan ini menegaskan, lingkungan akademik adalah tempat paling pas untuk menguji ide. Baginya, kampus harus tetap steril dari segala bentuk tekanan yang bisa membungkam kebebasan berpikir mahasiswa.
“Segala bentuk intervensi terhadap kebebasan berpikir justru dapat melemahkan marwah akademik itu sendiri,” pungkasnya.
Langkah berani ini diambil ITS untuk melatih nalar kritis para calon pengambil kebijakan di masa depan. Melalui diskusi terbuka, mahasiswa diharapkan lebih peka terhadap dinamika sosial dan pembangunan nyata di lapangan. [ipl/but]






