Ringkasan Berita:
- Sebanyak 5.426 jemaah haji Aceh tetap berangkat pada Haji 2026 meski banyak di antaranya korban banjir besar akhir 2025.
- Tim haji Aceh dan Kemenhaj RI menerapkan strategi jemput bola untuk membantu jemaah kehilangan dokumen.
- Aceh Tamiang menjadi wilayah terdampak paling berat dengan banyak jemaah kehilangan rumah dan harta benda.
- Semangat jemaah korban bencana menjadi simbol keteguhan menjalankan ibadah haji di tengah duka.
Makkah (beritajatim.com) – Sebanyak 5.426 jemaah haji asal Provinsi Aceh mulai memadati Makkah untuk melaksanakan rangkaian ibadah Haji 2026, termasuk ribuan korban banjir besar yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025.
Keberangkatan jemaah dari daerah berjuluk Serambi Mekkah ini menjadi catatan emosional tersendiri karena mereka tetap mampu memenuhi kuota haji meski sebelumnya menghadapi bencana besar yang menghancurkan rumah, dokumen penting, dan sumber ekonomi keluarga.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari kerja keras Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh bersama Kementerian Haji dan Umrah RI yang melakukan strategi jemput bola untuk memastikan seluruh calon jemaah terdampak tetap bisa berangkat ke Tanah Suci.
Jamaluddin Affan Asyi atau Syekh Jamal mengungkapkan perjuangan berat yang dialami para jemaah, terutama di wilayah terdampak parah seperti Aceh Tamiang.
“Aceh Tamiang adalah daerah dengan dampak bencana yang sangat berat. Di sana terdapat 150 jemaah haji, namun pada saat pelunasan tahap pertama, baru satu orang yang sanggup melunasinya,” ujar Syekh Jamal di Makkah, Minggu (10/5/2026) malam.
Banjir besar yang melanda Aceh pada November 2025 menyebabkan kerusakan masif, termasuk hanyutnya puluhan dokumen perjalanan seperti paspor.
Di Aceh Utara, tercatat 18 paspor jemaah hilang akibat banjir. Selain itu, rusaknya jaringan internet dan komunikasi turut menghambat proses administrasi kesehatan dan keberangkatan.
“Kami akhirnya mengalihkan proses ke daerah yang memiliki akses internet dan komunikasi telepon karena seluruh infrastruktur elektronik di lokasi awal hancur. Kami bersama tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Gubernur dan Wakil Gubernur untuk menjemput bola serta merelokasi jemaah agar mereka bisa melakukan pemeriksaan kesehatan,” jelasnya.
Melalui upaya intensif tersebut, kuota haji Aceh justru berhasil terpenuhi secara optimal dan menjadi salah satu provinsi dengan proses pemberangkatan tercepat.
“Hal yang paling menyedihkan bagi saya adalah jemaah di Tamiang. Mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi, rumah pun sudah tidak ada, namun mereka tetap bertekad untuk berhaji,” tambah Syekh Jamal.
Provinsi Aceh sendiri memperoleh kuota sebanyak 5.426 jemaah yang terbagi dalam 14 kelompok terbang.
Mayoritas diterbangkan melalui gelombang kedua menuju Jeddah sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah.
Secara nasional, hingga 10 Mei 2026, sebanyak 125.243 jemaah haji Indonesia telah diberangkatkan ke Arab Saudi, dengan 78.946 jemaah telah berada di Makkah.
Keteguhan jemaah Aceh korban banjir ini menjadi simbol kekuatan iman, semangat pantang menyerah, dan harapan baru di tengah pemulihan pascabencana. [ian/beq]






