RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 125.243 jemaah haji Indonesia dari 323 kloter telah diberangkatkan menuju Arab Saudi hingga Minggu (10/5/2026).
- Tercatat 78.946 jemaah sudah berada di Makkah, sementara kedatangan gelombang kedua via Jeddah mencapai 17.861 orang.
- Kemenhaj memperkuat Satgas Pencegahan Haji Nonprosedural guna melindungi jemaah dari praktik visa haji ilegal.
- Total jemaah wafat mencapai 23 orang, dengan imbauan peningkatan kewaspadaan kesehatan di tengah suhu ekstrem 42 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Sebanyak 125.243 jemaah haji Indonesia resmi diberangkatkan menuju Arab Saudi hingga memasuki hari ke-20 operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan mobilisasi ratusan ribu jemaah tersebut berjalan lancar, baik yang melalui gelombang pertama di Madinah maupun gelombang kedua yang mendarat langsung di Jeddah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pergerakan jemaah dari Madinah menuju Makkah terus menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan.
Hingga Minggu (10/5/2026), sebanyak 204 kloter yang membawa 78.946 jemaah telah berada di Makkah untuk melaksanakan umrah wajib dan bersiap menghadapi fase puncak haji.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah RI, Ichsan Marsha, memerinci bahwa fase kedatangan gelombang kedua via Bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah juga terus mengalir.
“Hingga saat ini tercatat 47 kloter dengan 17.861 jemaah dan 189 petugas telah tiba. Selain itu, sebanyak 3.266 jemaah haji khusus juga telah berada di Arab Saudi,” jelas Ichsan di Makkah.
Selain fokus pada layanan teknis, Kemenhaj memperketat pengawasan terhadap praktik haji nonprosedural yang berisiko membahayakan keselamatan warga negara. Pemerintah Indonesia bersama otoritas Arab Saudi telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penegakan Hukum Haji Nonprosedural yang melibatkan Bareskrim Polri dan Kementerian Imigrasi.
“Pemerintah Indonesia bersama Pemerintah Arab Saudi memiliki komitmen yang sama bahwa ibadah haji harus dilaksanakan melalui jalur resmi. Karena itu kami kembali mengingatkan masyarakat agar tidak tergiur tawaran berhaji menggunakan visa selain visa haji. Selain melanggar aturan, praktik haji nonprosedural sangat berisiko terhadap keselamatan jemaah karena mereka berada di luar sistem perlindungan resmi,” tegas Ichsan.
Menjelang puncak haji di Armuzna pada akhir Mei mendatang, Kemenhaj mengeluarkan peringatan serius terkait kondisi fisik jemaah. Saat ini, suhu udara di Makkah dan Madinah berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius. Kondisi panas ekstrem ini menuntut kedisiplinan jemaah untuk mengurangi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak.
“Puncak haji adalah fase ibadah yang sangat membutuhkan stamina. Jangan sampai tenaga habis sebelum waktunya. Utamakan ibadah wajib, kurangi aktivitas yang menguras fisik, dan segera laporkan jika mengalami gangguan kesehatan sekecil apa pun,” imbau Ichsan. Hingga saat ini, tercatat 67 jemaah masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Arab Saudi.
Operasional haji tahun ini juga diwarnai kabar duka dengan bertambahnya jumlah jemaah yang wafat. Pada Sabtu (9/5), tiga jemaah dilaporkan meninggal dunia, yakni Rodiyah Wayan (SOC 3), Kamariah Dul Tayib (SUB 8), dan Nursidah Sinrang Sijarra (UPG 5). Secara total, jemaah haji Indonesia yang wafat di Arab Saudi hingga hari ini mencapai 23 orang.
Kemenhaj juga mengingatkan kembali bagi jemaah gelombang kedua agar disiplin mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di tanah air. “Kepatuhan kecil seperti mengenakan ihram sesuai ketentuan adalah bagian dari disiplin ibadah. Kami berharap seluruh jemaah mengikuti arahan petugas agar seluruh rangkaian ibadah berjalan sah, tertib, dan nyaman,” tutup Ichsan. [ian/MCH]






