Magetan (beritajatim.com) – Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Kabupaten Magetan, Jawa Timur, masih bertahan tinggi pasca Lebaran Idulfitri 2026.
Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya beli masyarakat dan membuat penjualan pedagang merosot hingga 50 persen.
Pantauan di Pasar Sayur Magetan, Sabtu (9/5/2026) siang, sejumlah komoditas kebutuhan pokok masih dijual dengan harga tinggi. Minyak goreng kemasan mengalami kenaikan sekitar Rp2 ribu per liter sejak setelah Lebaran dan hingga kini belum turun.
Minyak goreng merek Fortune dijual Rp22 ribu per liter dari sebelumnya Rp20 ribu. Sementara Sunco dijual Rp23 ribu dari harga sebelumnya Rp21 ribu per liter.
Kenaikan juga terjadi pada MinyaKita yang kini dijual Rp18 ribu per liter dari sebelumnya Rp16 ribu. Pedagang menyebut harga naik karena stok barang di pasaran terbatas. Sedangkan minyak goreng curah dijual Rp21 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp18 ribu.
Harga beras juga masih bertahan tinggi meski pasokan melimpah. Beras premium dijual kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram, sedangkan beras SPHP dijual Rp12 ribu per kilogram.
Tak hanya itu, harga kedelai turut naik menjadi Rp11 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp8 ribu. Sejumlah komoditas lain juga mengalami kenaikan, seperti gula pasir dari Rp17.500 menjadi Rp18 ribu per kilogram, kacang tanah dari Rp28 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram, telur ayam dari Rp26 ribu menjadi Rp28 ribu per kilogram, serta daging ayam dari Rp28 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram.
Pedagang mengaku kondisi pasar semakin sepi akibat tingginya harga kebutuhan pokok. Mereka menyebut daya beli masyarakat menurun drastis sejak kenaikan harga terjadi setelah Lebaran.
Tri Purwanti, salah satu pedagang, mengatakan penjualan mengalami penurunan hingga 50 persen karena pembeli mengurangi belanja.
“Daya beli masyarakat turun sampai 50 persen karena harga barang-barang mahal sejak setelah Lebaran sampai sekarang,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Warsini, pedagang daging ayam di Pasar Sayur Magetan. Menurutnya, kenaikan harga membuat masyarakat lebih memilih mengurangi pengeluaran.
“Pasar jadi sepi. Jam segini biasanya masih ramai pembeli, sekarang sudah sepi karena harga semua naik dan pendapatan warga tidak mencukupi,” katanya.
Sementara itu, pembeli yang datang ke pasar kini cenderung membeli kebutuhan dalam jumlah kecil untuk menyesuaikan kondisi keuangan mereka.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga bahan pokok agar aktivitas jual beli di pasar kembali normal dan perekonomian pedagang bisa pulih. [fiq/ted]






