Ringkasan Berita:
- ISKI Jatim mendorong peningkatan kualitas komunikasi publik melalui literasi dan etika dialog.
- Ketua ISKI Jatim Dr Suko Widodo menilai tradisi diskusi di Indonesia masih lemah.
- Akademisi dan profesional komunikasi diminta memperkuat dokumentasi pemikiran melalui karya ilmiah.
- Komunikasi humanis berbasis empati dinilai penting untuk membangun budaya dialog sehat.
Surabaya (beritajatim.com) – Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur (ISKI Jatim) mendorong perbaikan kualitas komunikasi publik dengan memperkuat budaya literasi, forum diskusi rutin, serta etika dialog yang lebih humanis di tengah masyarakat.
Ketua ISKI Jatim Dr Suko Widodo mengkritisi lemahnya tradisi komunikasi publik saat ini yang dinilai masih didominasi wacana instan tanpa rekam jejak pemikiran yang kuat.
“Ini tugasnya bikin forum rutin soal komunikasi. Kita terlalu banyak bicara, tetapi sering tidak punya dokumentasi dan ruang diskusi yang kuat,” kata Suko Widodo, dikutip Sabtu (9/5/2026).
Menurut Suko, rendahnya tradisi literasi membuat banyak gagasan, pengalaman, dan pemikiran akademik tidak terdokumentasi secara berkelanjutan sehingga sulit menjadi referensi publik.
Ia menilai akademisi, praktisi, dan sarjana komunikasi perlu lebih aktif menghasilkan buku, karya ilmiah, maupun forum intelektual yang mampu memperkuat fondasi komunikasi nasional.
Suko menegaskan ilmu komunikasi bukanlah disiplin tunggal, melainkan membutuhkan pendekatan lintas bidang seperti psikologi, sosiologi, hingga jurnalistik.
Pendekatan multidisipliner tersebut dinilai penting untuk melahirkan komunikasi yang lebih empatik, santun, dan efektif dalam kehidupan sosial.
“Anak-anak di Jepang diajarkan bagaimana berbicara dengan melihat mata lawan bicara dan tidak memotong pembicaraan. Hal-hal seperti itu penting dalam budaya komunikasi,” tegasnya.
Ia menilai kemampuan berdialog secara santun dan menghargai lawan bicara harus mulai diperkuat kembali sebagai bagian dari pendidikan sosial masyarakat.
Di tengah perkembangan komunikasi digital yang serba cepat, budaya komunikasi humanis dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menekan polarisasi, konflik verbal, dan penyebaran wacana dangkal.
Karena itu, ISKI Jatim didorong menjadi pusat kolaborasi profesional komunikasi untuk membangun kembali tradisi diskusi sehat, literatif, dan produktif di Indonesia.
Penguatan etika komunikasi publik diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang lebih cerdas, kritis, dan beradab dalam menyampaikan maupun menerima informasi. [ipl/beq]





