Surabaya (beritajatim.com) – Ahli waris almarhum Irawan Tanto melaporkan mantan orang kepercayaan keluarga berinisial SG ke Polrestabes Surabaya atas dugaan pemalsuan dokumen terkait peralihan sekitar 51 persen saham perusahaan.
Kasus ini menjadi sorotan karena melibatkan sosok yang sebelumnya memegang peran strategis dan dipercaya dalam pengelolaan perusahaan.
Menurut Kus Indarjowo, rekan kerja yang mengenal SG sejak akhir 1990-an, SG memulai karier dari posisi lapangan sebelum akhirnya dipercaya menangani keuangan perusahaan.
“Seluruh alur keuangan, mulai dari penggajian hingga pembayaran, melalui dirinya. Ia merupakan sosok yang sangat dipercaya,” ujar Kus.
Seiring waktu, tingkat kepercayaan tersebut meningkat. SG kemudian dipercaya sebagai sekretaris pribadi almarhum Irawan Tanto hingga akhirnya menduduki posisi direktur dan terlibat langsung dalam operasional bisnis perusahaan.
Namun, setelah wafatnya Irawan Tanto pada 2018, pihak ahli waris menyebut mulai muncul sejumlah persoalan dalam pengelolaan perusahaan.
Salah satu isu utama adalah dugaan peralihan sekitar 51 persen saham yang disebut terjadi tanpa mekanisme dan persetujuan yang sah dari komisaris maupun pihak keluarga sebagai pemegang hak.
“Kami tidak pernah memberikan persetujuan atas peralihan tersebut,” ujar perwakilan keluarga.
Ahli waris menilai peralihan saham tersebut perlu diuji secara hukum karena berdampak signifikan terhadap struktur kepemilikan dan kendali perusahaan.
Selain itu, muncul pula persoalan terkait status jabatan SG. Berdasarkan keterangan pihak keluarga, sejak 23 Mei 2018, SG disebut tidak lagi menjabat sebagai direktur. Dalam catatan internal perusahaan, ia juga telah mengajukan pengunduran diri dan resmi berhenti per 2 Agustus 2023.
Meski demikian, pada 18 Oktober 2023, SG dilaporkan menandatangani dokumen kerja dengan mengatasnamakan diri sebagai direktur, meskipun masa jabatannya telah berakhir dan tidak pernah diperpanjang.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada aspek administratif perusahaan, tetapi juga menimbulkan konsekuensi ekonomi dan psikologis bagi keluarga.
Di sisi lain, terdapat pula catatan internal terkait pengelolaan keuangan. Dini Sulistiyowati dari bagian keuangan mengungkapkan adanya penggunaan dana perjalanan dinas yang belum dilengkapi laporan pertanggungjawaban secara menyeluruh.
“Dalam sistem perusahaan, setiap penggunaan anggaran wajib dipertanggungjawabkan. Hal ini yang menjadi perhatian kami,” ujarnya. (ang/ted)






