Makkah (beritajatim.com) – Makkah, dengan segala kemegahan spiritualnya, sering kali menguji ketahanan fisik para tamu Allah. Setelah menempuh perjalanan darat yang panjang dari Madinah, jemaah haji gelombang pertama tahun 2026 mulai memadati kawasan Aziziyah.
Di sana, di antara gedung-gedung yang menjulang tinggi, Hotel Al-Hidayah Tower berdiri bukan sekadar sebagai tempat peristirahatan, melainkan sebagai oase yang menawarkan kehangatan sebuah rumah.
Lilik Tryas Handarto, jemaah dari Embarkasi JKB 02 Banten, menyandarkan tubuhnya sejenak di lobi hotel yang sejuk pada Minggu (3/5/2026). Baginya, kebahagiaan di tanah suci tidak melulu soal kemegahan arsitektur, melainkan hal-hal kecil yang manusiawi, seperti aroma deterjen dari pakaian yang bersih. Ia mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas mesin cuci atau laundry yang disediakan secara gratis di dalam hotel.
“Itu sangat penting karena kita juga belum tahu di sini lokasi untuk laundry di mana,” ungkap Lilik dengan rona wajah lega. Bagi seorang musafir yang akan menghabiskan waktu berminggu-minggu di bawah terik matahari Makkah, kepastian bisa mencuci pakaian secara mandiri adalah kemewahan tersendiri yang menghapus satu beban pikiran di tengah padatnya agenda ibadah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, bahwa fasilitas mesin cuci ini telah menjadi standar pelayanan di seluruh hotel jemaah haji di Makkah.
Kebijakan yang diinisiasi oleh Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) ini bertujuan agar jemaah dapat lebih fokus pada kekhusyukan ibadah tanpa harus dipusingkan oleh urusan domestik yang teknis.
Selain kemudahan urusan pakaian, Lilik juga menyoroti aspek spiritual di dalam hotel. Al-Hidayah Tower menyediakan fasilitas musala yang sangat luas, sebuah ruang komunal yang mampu menampung satu kloter penuh, sekitar 350 hingga 400 jemaah. “Itu juga terpisah antara jemaah yang laki-laki maupun perempuan,” tambahnya, mengapresiasi privasi dan kenyamanan yang terjaga.
Penerimaan yang hangat saat pertama kali menginjakkan kaki di hotel juga meninggalkan kesan mendalam. Setelah perjalanan lintas gurun yang melelahkan, jemaah disambut dengan hidangan selamat datang yang menggugah selera. Rasa rindu pada tanah air seolah terobati lewat suapan nasi dengan menu yang akrab di lidah.
“Alhamdulillah memang ketika tiba di hotel ini kami dapat penyambutan yang sangat baik. Dari petugas haji maupun dari pihak Arab Saudi. Lauknya enak, kemudian juga ada buah, susu juga ada,” kata Lilik sambil tersenyum. Menu yang disusun sedemikian rupa agar sesuai dengan selera nusantara terbukti menjadi pendongkrak stamina bagi para jemaah yang baru tiba.
Senada dengan Lilik, Muhammad Tohir yang menjabat sebagai Ketua Kelompok (Karom) JKB 03 Banten, memberikan testimoni serupa. Baginya, ketepatan waktu adalah kunci. Di saat perut mulai keroncongan usai menempuh perjalanan Madinah-Makkah, makanan selamat datang tiba di saat yang sangat tepat.
“Makanan selamat datang dikasih di malam hari. Pagi pun tepat, makanan sudah datang. Enak, lezat? Alhamdulillah,” ujar Tohir penuh syukur sesaat sebelum berangkat melaksanakan umrah wajib di depan Hotel Al-Hidayah Tower. Baginya, layanan konsumsi yang konsisten adalah bentuk penghormatan terbaik bagi para jemaah.
Secara teknis, Hotel Al-Hidayah Tower di kawasan Aziziyah ini masuk ke dalam wilayah Sektor 10. Wilayah ini terbilang spesial karena konsepnya yang terpusat; dalam satu sektor hanya terdapat satu kompleks hotel raksasa dengan 10 menara (tower).
Di sini, sekitar 21 ribu jemaah yang terbagi dalam 57 kloter dari dua embarkasi besar, Banten dan Padang, berkumpul menjalin ukhuwah dalam satu atap yang sama di bawah pengawasan ketat petugas Kemenhaj RI. [ian/MCH]






