Surabaya (beritajatim.com) – Lulusan perguruan tinggi kini terancam kehilangan jati diri akibat kurikulum yang terlalu patuh pada industri. Kampus diingatkan agar tidak mencetak tenaga kerja yang hanya berfungsi memutar roda ekonomi semata.
Pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Prof. Tuti Budirahayu, menilai orientasi kampus kian menyempit. Mahasiswa dibentuk sedemikian rupa agar sesuai kebutuhan pasar sehingga mengabaikan fungsi utama membangun karakter.
”Jika orientasi pendidikan tinggi dipersempit hanya sebatas untuk mengisi tenaga kerja di sektor usaha dan industri, maka lulusannya dapat dianalogikan seperti sekrup-sekrup dari mesin-mesin kapitalisme,” ujar Tuti, Senin (4/5/2026).
Fenomena ini berdampak pada hilangnya nalar kritis generasi muda terhadap kondisi lingkungan sekitar. Lulusan perguruan tinggi dikhawatirkan tidak lagi peka terhadap masalah ketidakadilan yang muncul di tengah masyarakat.
”Orientasi kerdil pendidikan tinggi semacam itu menjadikan generasi muda tidak memiliki kepekaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial,” ungkap Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unair tersebut.
Kondisi ini memicu desakan agar institusi pendidikan kembali ke khitah sebagai pencetak manusia seutuhnya. Pendidikan tinggi harus mampu melahirkan masyarakat yang mengedepankan nurani dalam setiap tindakan profesional mereka kelak. [ipl/kun]






