Ringkasan Berita:
- Zainudin (84) tiba di Makkah setelah menanti 14 tahun sejak mendaftar pada Desember 2012.
- Istri Zainudin batal berangkat karena dinyatakan tidak istithaah akibat gangguan daya ingat saat pemeriksaan di Embarkasi Solo.
- Jemaah kloter SOC-04 ini melaksanakan umrah wajib pada malam hari guna menghindari suhu panas Makkah yang mencapai 39 derajat Celcius.
Makkah (beritajatim.com) – Zainudin, jemaah haji berusia 84 tahun asal Bojong, Tegal, Jawa Tengah, akhirnya menginjakkan kaki di Makkah pada musim haji 2026 setelah menanti selama 14 tahun, meskipun ia harus merelakan keberangkatan tanpa sang istri yang dinyatakan tidak memenuhi syarat kesehatan (istithaah).
Jemaah yang tergabung dalam kloter SOC-04 ini tiba di Hotel Gulf Suits, Makkah, pada Jumat (1/5/2026) siang waktu setempat. “Alhamdulillah, sekarang usia saya 84 tahun. Saya sangat senang akhirnya bisa sampai di sini,” ujar Zainudin saat ditemui di lobi hotel.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, Zainudin merupakan potret keteguhan jemaah lansia yang tetap berangkat meski diuji dengan perpisahan mendadak di embarkasi.
Penantian panjangnya dimulai sejak mendaftar pada 5 Desember 2012 melalui KBIHU Bojong Al-Ikhsan.
Perpisahan di Embarkasi Solo
Rencana awal Zainudin untuk beribadah bersama sang istri pupus tepat seminggu sebelum keberangkatan. Kondisi kesehatan istrinya menurun drastis, mulai dari kehilangan kemampuan berjalan hingga gangguan daya ingat yang dideteksi oleh tim medis di Embarkasi Solo.
“Awalnya saya berangkat berdua dengan istri. Tapi mendadak istri saya sakit. Waktu di embarkasi ditanya petugas, jawabannya sudah melantur. Ternyata mengalami gangguan ingatan,” tutur Zainudin menceritakan momen haru saat istrinya dinyatakan tidak istithaah.
Meskipun berat, Zainudin memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ibadah demi memenuhi panggilan suci. Ia mengonfirmasi bahwa saat ini kondisi fisik istrinya di tanah air sudah berangsur membaik dan telah kembali ke rumah, meski fungsi ingatannya belum pulih sepenuhnya.
Setibanya di Makkah, Zainudin dihadapkan pada cuaca ekstrem dengan suhu udara yang mencapai 39 derajat Celcius. Guna menjaga stamina jemaah lansia, petugas PPIH Sektor 2 mengatur jadwal umrah wajib pada malam hari pukul 22.00 WAS menggunakan fasilitas Bus Shalawat.
Langkah ini diambil sesuai protokol kesehatan bagi jemaah risiko tinggi (risti) agar terhindar dari kelelahan fisik dan paparan panas matahari yang menyengat. Zainudin juga dipastikan mendapatkan pendampingan petugas serta layanan kursi roda melalui program Kartu Kendali yang dikoordinasikan oleh sektor pemondokan.
“Tadi saya sampai sekitar jam 2 siang, insyaAllah nanti malam jam 10 saya akan melaksanakan umrah wajib. Semoga saya diberi kesehatan, umur panjang, dan bisa menjalankan ibadah dengan baik sampai selesai,” ucap Zainudin penuh harap. [ian/suf]






