Surabaya (beritajatim.com) – Industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) serta industri kreatif di Jawa Timur tengah menghadapi “badai” ketidakpastian. Memasuki April 2026, sektor yang menjadi tumpuan jutaan orang ini dilaporkan merosot tajam, memaksa para pelaku usaha menjual aset demi bertahan hidup di tengah kebijakan efisiensi anggaran yang mencekik.
Keresahan ini memuncak saat aliansi pelaku industri yang tergabung dalam Forum Event Kreatif Jawa Timur, meliputi Asperapi, Backstagers, Ivendo, Event Owner, hingga Rental Indonesia melakukan gerilya advokasi ke berbagai pihak, diantaranya Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur pada Senin (27/4/2026).
Data yang dihimpun forum tersebut menunjukkan tren penurunan aktivitas yang sangat mengkhawatirkan. Jika pada tahun 2025 penurunan tercatat di angka 35-40%, memasuki kuartal pertama tahun 2026, angka tersebut anjlok drastis hingga menyentuh 60-65%.
“Harapannya setelah Lebaran ada lonjakan kegiatan ekonomi kreatif, namun realitanya tren justru menurun,” ungkap Ketua DPD Forum Backstagers Indonesia (FBI) Jatim, Lukman Sadaya.
Ia menambahkan bahwa kondisi ini membuat banyak pengusaha mulai menjual aset seperti saat pandemi Covid-19 lalu.
“Setelah sempat pulih, kini napas kami kembali terengah-engah,” imbuhnya.
Dampak nyata dari penurunan ini terlihat pada serapan tenaga kerja. Dari sekitar 1,2 juta hingga 3,8 juta tenaga kerja kreatif di Jawa Timur (berdasarkan berbagai basis data industri dan BPS 2025), mayoritas kini berada dalam bayang-bayang PHK. Di tingkat perusahaan, jumlah karyawan tetap (in-house) berkurang drastis dari rata-rata 20-25 orang menjadi hanya 2-4 orang saja.
Para pelaku industri menekankan bahwa kegiatan event bukanlah pemborosan anggaran, melainkan katalisator strategis bagi 17 subsektor ekonomi kreatif dan 13 subsektor pariwisata.
Secara ekonomi, kontribusi sektor ini sangat masif. Dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Timur tahun 2025 yang mencapai Rp3.500 triliun, sektor ekraf berpotensi menyumbang sekitar 10% atau setara Rp350 triliun.
Beberapa poin krusial mengenai multiplier effect industri event antara lain:
* Perputaran Uang: Satu event skala menengah memutar uang Rp500 juta hingga Rp3 miliar. Skala besar/pameran bisa menembus Rp100 miliar.
* Rantai Pasok Luas: Melibatkan hotel, transportasi, kuliner (F&B), vendor produksi, hingga pelaku UMKM di lokasi acara.
* Sirkulasi Cepat: Setiap Rp1 yang dibelanjakan dalam sebuah event diproyeksikan menghasilkan perputaran ekonomi sebesar Rp2 hingga Rp3 di masyarakat.
Ketidakjelasan Regulasi dan “Anak Tiri” Kebijakan
Selain faktor ekonomi, industri ini juga berjuang melawan hambatan administratif.
Ketua DPD Industri Event Indonesia, Eko Febri, menyoroti ketidakjelasan klasifikasi usaha (KBLI) yang membuat posisi mereka bias dalam aplikasi pengadaan (procurement).
“Kami ini sebenarnya industrinya di mana, induknya siapa, nomenklaturnya belum jelas, termasuk standarisasinya,” tegas Eko.
Hal senada disampaikan Sekretaris DPD Backstagers Jatim, Toufan WH, yang menekankan bahwa pekerja event adalah tenaga ahli, bukan sekadar tenaga informal.
Kadin Jatim: MICE Bukan Sektor Konsumtif
Menanggapi kondisi tersebut, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menyatakan dukungan penuh. Ia menilai kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang mencapai 60% seharusnya tidak memukul sektor MICE.
“MICE ini jangan dimasukkan ke anggaran yang diefisiensi karena mendukung semua sektor, termasuk UMKM,” tegas Adik.
Kadin Jatim berkomitmen untuk segera mengeluarkan pernyataan resmi kepada pemerintah agar sektor MICE mendapatkan perhatian khusus sebagai motor pertumbuhan ekonomi nasional.
Namun, Adik juga mengingatkan para pelaku industri untuk lebih adaptif. Ia mendorong pengusaha event untuk menyelaraskan proposal mereka dengan fokus pemerintah saat ini, seperti pangan, energi, green economy, dan pengembangan SDM digital.
“Ketika mengajukan proposal, harus disertai jaminan dampak turunannya secara terukur agar lebih profesional meyakinkan pemerintah,” tutupnya.
Tanpa adanya intervensi dan dukungan nyata terhadap ekosistem event, target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% diprediksi sulit tercapai, mengingat jutaan mata pencaharian pekerja kreatif di Jawa Timur kini sedang dipertaruhkan.[rea]






