Surabaya (beritajatim.com) – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyiapkan inovasi “Satu Data Satu Peta” di bidang kesehatan untuk mengintegrasikan seluruh data rekam medis elektronik warga secara terpadu, Senin (27/4/2026).
Langkah strategis ini bertujuan untuk memetakan sebaran penyakit yang diderita oleh warga secara mendetail di setiap wilayah, agar penanganan kesehatan menjadi lebih terukur.
Selain sebagai instrumen pemantauan, data yang terkumpul nantinya akan menjadi basis riset akademik dalam merumuskan solusi kesehatan dan kebijakan yang diambil Pemkot.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menyatakan bahwa keberhasilan program ini didukung oleh keterlibatan masif 63 puskesmas dan tenaga Kader Surabaya Hebat (KSH).
Petugas dari seluruh puskesmas akan turun langsung ke lapangan untuk menghimpun data kesehatan masyarakat di wilayah kerja masing-masing.
Sementara itu, setiap informasi mengenai kebutuhan dasar kesehatan warga kemudian diinput secara instan oleh petugas KSH melalui aplikasi digital yang baru saja dikembangkan dengan skema home visit. “Nantinya program home visit ini akan kita gandengkan dengan sistem milik KSH,” ujar dr. Billy menjelaskan mekanisme teknisnya.
Seluruh data yang masuk dari puluhan puskesmas tersebut akan disatukan ke dalam data warehouse milik Dinkes Surabaya untuk divalidasi.
Setelah melalui proses evaluasi dan analisis mendalam, dr. Billy menyebut informasi tersebut akan ditampilkan secara visual melalui dashboard digital.
Integrasi ini tidak hanya berhenti di level puskesmas, tetapi juga mencakup rekam medis elektronik dari rumah sakit milik pemerintah kota. “Saat ini, sumber data rumah sakit berasal dari RSUD Bhakti Dharma Husada, RSUD dr. Mohamad Soewandhie, dan RSUD Eka Candrarini,” kata dia.
Dengan kelengkapan data tersebut, Pemkot Surabaya optimistis memiliki rekam medis elektronik yang komprehensif untuk mendukung program “Satu Data Satu Peta”.
Sistem ini secara otomatis memberikan label pada setiap pasien berdasarkan jenis penyakit yang diderita saat mereka berobat. “Kita bisa melihat persebaran pasien hipertensi atau diabetes hanya dengan satu kali klik pada peta tersebut,” imbuh dr. Billy.
Melalui pemetaan yang akurat, Dinkes dapat menemukan solusi medis dengan tata kelola yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Di sisi lain, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menginstruksikan agar sistem ini nantinya melibatkan seluruh rumah sakit di Kota Pahlawan, bukan hanya milik Pemkot.
Ia berencana mengumpulkan para direktur rumah sakit untuk membentuk komunitas yang saling terhubung dalam satu sistem rekam medis terpadu.
Integrasi lintas institusi ini dianggap krusial agar pemerintah bisa memetakan penyakit kronis seperti jantung dan diabetes hingga ke level lingkungan terkecil.
Rekam medis elektronik ini juga berfungsi sebagai alat kontrol bagi pasien, terutama warga kurang mampu yang membutuhkan perhatian khusus. “Jika ada pasien yang melewatkan jadwal kontrol pada hari itu, maka tugas kami sebagai pemerintah turun ke rumahnya, memberikan obat. Inilah alasan kami membutuhkan rekam medis,” tegas Wali Kota Eri.
Terkait isu privasi, ia menjamin bahwa pemanfaatan data rekam medis tetap berada dalam koridor kerahasiaan yang ketat sesuai regulasi.
Data tersebut hanya dapat diakses oleh pihak rumah sakit untuk kepentingan pencegahan penyakit dan tidak akan dipublikasikan secara umum.
Melalui penguatan data ini, Wali Kota Eri menargetkan efektivitas pencegahan penyakit karena baginya mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. “Karena bagaimanapun pencegahan itu lebih baik daripada ketika kita sakit,” pungkasnya. (rma/kun)






