Ringkasan Berita:
– Layanan bus shalawat beroperasi 24 jam nonstop untuk mengantar jemaah haji dari hotel menuju Masjidil Haram.
– PPIH menyiagakan 74 titik halte strategis dengan jarak rata-rata kurang dari 100 meter dari pemondokan jemaah.
– Distribusi terminal tujuan dibagi tiga: Syib Amir (Syisyah/Raudhah), Jiad (Misfalah), dan Jabal Ka’bah (Aziziyah/Jarwal).
– Jemaah diwajibkan mengingat nomor rute bus dan selalu membawa kartu Nusuk sebagai identitas resmi selama beraktivitas.
– Petugas disiagakan di setiap titik krusial untuk memberikan prioritas bagi lansia, disabilitas, dan jemaah perempuan.
Makkah (beritajatim.com) – Layanan bus shalawat bagi jemaah haji Indonesia di Makkah kini beroperasi selama 24 jam penuh dengan penempatan 74 titik halte yang berjarak rata-rata kurang dari 100 meter dari hotel pemondokan.
Fasilitas transportasi gratis ini dirancang secara terintegrasi guna memastikan jemaah dapat beribadah di Masjidil Haram kapan saja tanpa harus menguras energi untuk berjalan jauh menuju titik keberangkatan.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan, yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pemetaan halte dan rute bus ini menjadi krusial bagi jemaah, termasuk rombongan asal Jawa Timur (SUB) yang mulai memadati Makkah.
Kepala Daerah Kerja (Daker) Makkah, Ihsan Faisal, menekankan bahwa kunci utama mobilitas yang efektif adalah pemahaman jemaah terhadap nomor rute perjalanan mereka.
3 Terminal Utama dan Sebaran Wilayah
Untuk menghindari penumpukan dan memudahkan jemaah kembali ke hotel masing-masing, Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) membagi terminal pemberhentian bus di area Masjidil Haram menjadi tiga titik utama:
– Terminal Syib Amir: Titik pemberhentian bagi jemaah yang tinggal di wilayah Syisyah dan Raudhah.
– Terminal Jiad: Area penurunan dan pemberangkatan bagi jemaah di wilayah Misfalah.
– Terminal Jabal Ka’bah: Melayani jemaah haji yang menempati hotel di wilayah Aziziyah dan Jarwal.
“Jemaah cukup menuju halte terdekat dari hotel, lalu naik bus sesuai rute. Yang penting diingat adalah nomor rutenya, bukan busnya, karena dalam satu rute terdapat beberapa unit bus,” terang Ihsan Faisal saat memberikan paparan di Kantor Urusan Haji (KUH) Makkah.
Strategi Anti-Tersesat di Titik Halte
Sebanyak 74 halte bus shalawat telah disiagakan di seluruh sektor pemondokan Makkah. Penempatan ini memastikan jemaah tidak akan kesulitan mencari transportasi karena halte terletak tepat di depan hotel berkapasitas besar atau kantor sektor yang mudah dikenali.
Jemaah diimbau untuk tidak terpaku pada fisik bus tertentu, melainkan fokus pada papan nomor rute yang terpasang jelas di bagian depan dan samping armada.
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI merancang jalur transportasi ini agar ramah bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Petugas haji Indonesia dipastikan bersiaga di setiap halte dan terminal untuk mengatur arus jemaah serta memberikan prioritas duduk bagi mereka yang membutuhkan bantuan khusus.
Jika jemaah merasa salah arah atau tersesat, petugas di lapangan siap melakukan navigasi dan mengarahkan kembali ke halte yang benar.
Kartu Nusuk: Akses Identitas dan Layanan
Selain memahami rute transportasi, jemaah wajib disiplin membawa kartu Nusuk setiap kali keluar dari hotel.
Sesuai regulasi Pemerintah Arab Saudi, kartu ini adalah bukti legalitas utama untuk mengakses kawasan ibadah dan layanan transportasi publik.
Pemeriksaan ketat akan dilakukan oleh otoritas keamanan di berbagai titik akses menuju Masjidil Haram.
Identitas digital ini juga berfungsi sebagai perlindungan jemaah untuk mendapatkan layanan kesehatan secara gratis selama di Makkah.
Apabila kartu Nusuk hilang atau rusak, jemaah diminta segera melapor kepada ketua rombongan atau petugas sektor agar proses penggantian melalui pihak syarikah dapat segera dilakukan.
Dukungan penuh dari petugas di setiap sektor menjamin jemaah dapat menjalankan rangkaian haji 2026 dengan aman, nyaman, dan khusyuk. [ian/suf]






