Ringkasan Berita:
- FK Unisma meluluskan 22 dokter baru dengan tingkat kelulusan 95 persen.
- Kelulusan diraih di tengah perubahan sistem ujian nasional menjadi UKNPDPD.
- Empat mahasiswa masuk 10 besar nasional dengan nilai di atas 90.
- Program double degree jadi keunggulan, lulusan raih gelar dokter dan magister sekaligus.
Malang (beritajatim.com) – Fakultas Kedokteran Universitas Islam Malang kembali mencetak tenaga medis berkualitas dengan meluluskan 22 dokter baru dalam prosesi Ba’iat Dokter Muslim Periode XLV yang digelar di Aula Abdurrahman Wahid, Sabtu (25/4/2026).
Capaian ini menjadi sorotan karena diraih di tengah perubahan sistem ujian nasional profesi dokter yang semakin ketat. Dari total 24 peserta, sebanyak 22 mahasiswa dinyatakan lulus atau mencapai tingkat kelulusan 95 persen.
Dekan Fakultas Kedokteran Unisma, Rahma Triliana, menyebut keberhasilan tersebut sebagai pencapaian luar biasa, mengingat adanya peningkatan standar kelulusan.
“Tahun ini nilai lulusnya naik, dari yang semula 64-65, sekarang menjadi 66. Alhamdulillah, kita tetap bisa lulus 95 persen. Ini pencapaian yang luar biasa,” ujarnya.
Perubahan sistem ujian dari UKMPPD menjadi UKNPDPD menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa. Sistem baru ini berada di bawah koordinasi Konsil Kesehatan Indonesia bersama kementerian terkait, dengan standar kelulusan yang lebih tinggi.
Tak hanya itu, kualitas lulusan juga terbukti dengan masuknya empat mahasiswa FK Unisma dalam jajaran 10 besar nasional dengan nilai di atas 90. Nilai tertinggi bahkan mencapai 94, sementara nilai terendah untuk peserta yang lulus berada di angka 74.
Momen haru terjadi saat prosesi ba’iat menyebut nama dr. Ulil Albab, mahasiswa yatim piatu penerima beasiswa Ar-Razi FK Unisma. Prosesi pemakaian jas dokter dilakukan oleh pengurus yayasan yang selama ini mendampinginya.
Sebagai bentuk pengabdian, dr. Ulil akan bertugas di Pondok Pesantren Arozzi selama tiga tahun ke depan. Ia juga menjadi salah satu lulusan dengan gelar ganda (double degree), yakni dokter dan Magister Hukum Kesehatan.
Prestasi serupa diraih dr. Adillah yang menyandang gelar Magister Manajemen Rumah Sakit. Program double degree menjadi keunggulan FK Unisma karena memungkinkan mahasiswa menempuh pendidikan S2 secara paralel selama masa klinik.
“Ini keunggulan kita, mendorong anak-anak mengambil double degree. Mereka menempuh S2 selama empat semester atau sekitar dua tahun, sehingga saat wisuda mereka langsung menyandang gelar dokter sekaligus magister,” imbuh Rahma.
Meski hasil kelulusan tinggi, fakultas tetap melakukan evaluasi, terutama terkait peserta ujian ulang yang kini tersisa dua orang. Ke depan, FK Unisma akan menerapkan standar kesiapan lebih ketat bagi mahasiswa sebelum mengikuti ujian nasional.
“Langkah kami diambil agar lulusan FK Unisma tidak hanya siap menghadapi ujian kompetensi nasional, tetapi juga benar-benar tangguh saat terjun langsung melayani masyarakat di dunia kesehatan yang sesungguhnya,” pungkasnya. [dan/beq]






