Ringkasan Berita:
- Khofifah ajak masyarakat perkuat budaya literasi di Hari Buku Sedunia 2026
- Literasi dinilai kunci membangun SDM unggul, adaptif, dan berdaya saing global
- Pemprov Jatim dorong literasi digital untuk tangkal hoaks dan disinformasi
- Indeks literasi Jatim 2025 capai 56,29, didukung berbagai program inovatif
Surabaya (beritajatim.com) – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat budaya literasi sebagai langkah strategis membangun sumber daya manusia (SDM) yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.
Ajakan tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Buku Sedunia 2026, Kamis (23/4/2026). Khofifah menegaskan bahwa buku merupakan simbol kekuatan manusia dalam memahami dunia.
“Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca, kita bisa berkeliling dunia, memahami peradaban, dan memperkaya perspektif tanpa harus berpindah tempat. Inilah kekuatan literasi,” ujarnya.
Hari Buku Sedunia yang diperingati setiap 23 April ditetapkan oleh UNESCO karena memiliki nilai historis dalam dunia sastra. Tanggal tersebut bertepatan dengan wafatnya tiga tokoh besar dunia, yakni William Shakespeare, Miguel de Cervantes, dan Inca Garcilaso de la Vega.
“Momentum ini mengingatkan kita untuk terus menghargai karya literasi sekaligus mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, agar semakin mencintai budaya membaca,” imbuhnya.
Khofifah menegaskan bahwa penguatan literasi tidak dapat dilakukan secara instan. Diperlukan kolaborasi berkelanjutan antara keluarga, satuan pendidikan, pemerintah, dan masyarakat.
“Literasi adalah kunci utama dalam meningkatkan kualitas SDM. Karena itu, budaya membaca harus dibangun sejak dini agar lahir generasi yang cerdas, kritis, dan berkarakter,” tegasnya.
Di tengah era digital, Khofifah juga menekankan pentingnya literasi adaptif. Masyarakat tidak hanya membaca buku fisik, tetapi juga memanfaatkan e-book dan audiobook sebagai bagian dari transformasi literasi modern.
“Literasi hari ini bukan hanya soal membaca, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menyaring informasi secara bijak. Ini penting agar masyarakat tidak mudah terpapar hoaks dan disinformasi,” jelasnya.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus mendorong peningkatan indeks literasi masyarakat melalui berbagai program. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Jawa Timur tahun 2025 mencapai 56,29, dengan dimensi kepatuhan sebesar 0,5670 dan dimensi kinerja sebesar 0,5610.
Capaian tersebut didukung oleh berbagai indikator, mulai dari pemerataan layanan perpustakaan, ketercukupan koleksi dan tenaga pustakawan, tingkat kunjungan masyarakat, hingga keterlibatan komunitas dalam kegiatan literasi.
Pemprov Jatim juga mengembangkan layanan perpustakaan terpadu di desa, sekolah, lembaga pemasyarakatan, serta perangkat daerah, termasuk layanan peminjaman buku.
Berbagai inovasi dilakukan untuk mendekatkan literasi kepada masyarakat, seperti mobil perpustakaan keliling (MPK), dongeng keliling (Dollen), Tur Keliling Perpustakaan (Tulip), hingga podcast literasi.
“Kami ingin anak-anak sejak dini menyukai buku, tidak hanya bergantung pada gadget. Karena itu, literasi harus kita hadirkan secara kreatif dan menyenangkan,” ungkapnya.
Pembinaan literasi juga diperkuat melalui komunitas, desa dan kelurahan, serta berbagai lomba dan kegiatan kreatif untuk meningkatkan minat baca masyarakat.
Melalui momentum ini, Khofifah mengajak masyarakat menjadikan membaca sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
“Mari kita sisihkan waktu setiap hari untuk membaca. Karena dengan membaca, kita bisa menjelajahi dunia tanpa harus keluar dari tempat kita berada,” ajaknya.
Menurutnya, budaya literasi yang kuat akan menjadi fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang produktif, inovatif, dan siap menghadapi tantangan global.
“Hari Buku Sedunia menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas literasinya. Semakin tinggi budaya literasi, semakin kuat pula daya saing bangsa,” pungkasnya. [tok/beq]






