Surabaya (beritajatim.com) – IdeaFest Surabaya 2026 kembali digelar di Grand City Convex pada 7-9 Agustus mendatang. Mengusung tema The Next Leap, ajang ini melibatkan 200 pembicara untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor kreator lokal.
Penyelenggaraan tahun kedua di Surabaya ini menjadi eskalasi setelah sukses menjaring 14.000 peserta tahun lalu. Fokus tahun ini adalah mendorong individu maupun komunitas agar berani mengambil langkah lebih jauh dalam berkarya.
Co-Chair IdeaFest, Ben Subiakto menyebut ajang ini bukan sekadar tempat mencari inspirasi, melainkan ruang eksekusi ide. Ia menilai ekosistem kreatif di Surabaya tumbuh pesat dan membutuhkan platform pertemuan yang dinamis.
“Kreator, entrepreneur, komunitas, hingga pemimpin industri dipertemukan dalam satu ruang yang dinamis,” paparnya ditulis Rabu (22/4/2026).
Ben melihat antusiasme anak muda Surabaya tahun lalu memberikan kejutan besar dengan antrean panjang di hampir semua kelas. Kehadiran IdeaFest menjadi ruang belajar yang dibutuhkan untuk memahami tren masa depan. “Di IdeaFest, kita bisa jadi kaya. Kaya teman, kaya ide, kaya koneksi,” ujarnya.
Festival Director IdeaFest Surabaya, Saskia Tessy menegaskan pentingnya keberanian dalam mewujudkan mimpi. Menurutnya, generasi muda perlu melakukan langkah nyata daripada sekadar bermimpi tanpa aksi untuk menghadapi tantangan dunia. “Dampak IdeaFest ini tidak boleh berhenti dalam tiga hari penyelenggaraan saja,” tegasnya.
Saskia ingin menggali lebih banyak potensi talenta lokal melalui gerakan kolektif. Ia berharap acara ini mampu melahirkan energi positif bagi masyarakat Jawa Timur melalui berbagai program interaktif. “Saya ingin acara ini menjadi sebuah gerakan kolektif bagi arek-arek Surabaya untuk maju bersama,” tambahnya.
Pengusaha F&B Surabaya, Karin Binanto mendorong pelaku kreatif untuk tidak hanya menjadi konsumen. Ia menilai rasa takut gagal seringkali menjadi penghambat utama munculnya jenama-jenama lokal baru yang kompetitif.
“Jangan hanya teori. Banyak orang punya teori hebat, tapi tidak pernah mulai. Padahal dari proses itulah kita bisa berkembang,” tandasnya.
Karin menceritakan pengalamannya tahun lalu yang terlecut untuk berbuat lebih setelah hadir sebagai pembicara. Ia menekankan pentingnya membangun konsep yang sesuai dengan kebutuhan pasar melalui jejaring yang tersedia.
“Di IdeaFest banyak networking, tinggal bagaimana membuat konsep sesuatu yang pasar butuhkan,” kata lulusan sekolah perfilman Amerika ini.
Ketua ekosistem entrepreneur Surabaya, Arif Budiono memandang IdeaFest sebagai etalase bagi karya dan riset akademis. Selama ini, banyak hasil riset kampus hanya berhenti di lingkungan internal tanpa diketahui publik luas. “Kampus tak punya etalase, dan biasanya ketika ada pameran di kampus sendiri, pengunjungnya dari orang internal juga,” ungkapnya.
Arif terkejut dengan kehadiran platform ini karena mampu menjembatani dunia akademik dengan industri nyata. Ia berharap kolaborasi ini terus berlanjut untuk memamerkan gagasan baru kepada audiens yang lebih heterogen. “Makanya saya surprise ada IdeaFest ini,” imbuhnya.
IdeaFest Surabaya 2026 juga menghadirkan program baru IdeaFest X untuk membuka ruang bagi komunitas, media, hingga podcaster. Sejumlah komunitas telah bergabung untuk menggelar workshop memasak, kaligrafi, hingga sesi musik.
Pilar strategis yang diusung meliputi sektor bisnis, seni budaya, kesehatan mental, pengembangan diri, teknologi, hingga kuliner. Lebih dari 120 sesi IdeaTalks dan conference akan mengisi jadwal selama tiga hari penuh.
Sederet tokoh seperti Winston Utomo, Andy F. Noya, hingga Ucup dari Pestapora dipastikan hadir sebagai pembicara. Selain itu, terdapat Artisan Market yang menghadirkan lebih dari 100 penyewa produk kreatif pilihan.
Masyarakat dapat memesan tiket melalui platform Loket.com. Harga pre-sale dibanderol Rp225.000 untuk akses selama dua hari, dengan ketersediaan promo khusus bagi peserta komunitas. [ipl/kun]






